5.15.2014

Pa to the Jeon a.k.a Pa-jeon

Pada suatu siang bolong ketika “jam bego” menyerang, saat stasiun TV macam HBO atau Fox ga menyajikan sesuatu yang menarik minat, begitu pula TV lokal yang isinya infotainment melulu, saat masih nanggung banget buat siesta ataupun nyiapin masakan untuk makan malam.. jari ini langsung mencet saluran TV Korea berbahasa Inggris (Arirang) daaaann….bikin ngecessss sodara-sodara! Gimana ga ngeces kalo ditayangin sejarah pajeon a.k.a Korean pancake beserta cara membuatnya. Tapi sayang karena lebih fokus sama sejarah dan macamnya, ga ada sesi khusus langkah-langkah pembuatannya.
Terus keinget ada blogger favorit (entah cocok apa ga disebut blogger), suami istri asli Kanada yang tinggal di Korea. Mereka pernah posting video tentang how to make pajeon. Mumpung ada koneksi internet yang kenceng, langsung browsing deh videonya. Setelah ditonton tampaknya gampang dan bahannya ada semua di dapur, kecuali bahan buat sausnya. Akhirnya kucoba bikin pajeon-nya aja tanpa saus. Agak tricky juga ternyata waktu menuangkan adonannya ke wajan, jadinya ga begitu rapi huhu… eh tapiii dengan bahan dan cara yang simpel gitu ternyata cukup enak, lumayan bikin ketagihan lho. Andai pake saus mungkin lebih endesss..
Ini dia penampakan hasil percobaan perdana bikin pajeon. Kapan-kapan mau bikin lagi pake saus ah, kalo udah nemu soy sauce yang halal, hehe….

mungkin penampakan kurang ok, tapi yg penting rasanya dong

Yang pengen iseng-iseng bikin pajeon sila cek videonya

Suatu ketika makan di resto fastfood Korea di Jogja, ada pajeon yg notabene menu baru di situ, iseng nyobain ternyata rasanya hampir sama kaya’ yang pernah kubikin, cuma punya resto itu lebih garing dan ada kejunya, yum!

Selamat mencoba!


3.23.2014

Green is Easy

"BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA"


Siapa yang ga pernah menjumpai tulisan tersebut?
Kalau membaca sih aku yakin anak TK jaman sekarang pun bisa, tapi apakah semua orang benar-benar menerapkannya? Pada kenyataannya engga. Sama halnya orang yang merokok di tempat yang jelas-jelas terpampang tulisan DILARANG MEROKOK. Di socmed beberapa kali kubaca ada yang menemui orang membuang sampah dari jendela mobil mewahnya, dibuang di jalanan begitu saja. Jangankan di socmed ya, aku sendiri juga pernah menyaksikan penumpang mobil mewah yang membuang puntung rokok saat berhenti di traffic light, juga membuang sampah tisu di tikungan jalan protokol. Lalu perayaan tahun baru yang menyisakan banyak sampah di bundaran HI. Juga minimnya ketersediaan tempat sampah ketika ada kegiatan semacam “pasar senggol”. Kalau dilihat lagi, kasus yang pertama lebih mengarah pada perilaku penumpang mobil mewah yang kurang sesuai dengan atribut yang ia bawa, sedangkan kasus yang kedua melibatkan kurangnya sarana sekaligus kesadaran masyarakat untuk menahan diri membuang sampah begitu saja di lokasi kegiatan. Kalau soal sarana sih, tinggal nambah tempat sampah aja udah selesai masalah. Paling-paling kepentoknya masalah dana *teuteup*. Tapi kalau soal mental dan kelakuan, pengetahuan yang diperoleh dari edukasi aja ga cukup, mesti ada kesadaran diri untuk melakukannya. Sekalipun efek yang ditimbulkan dari perilaku tidak bertanggung jawab ini sudah langsung dirasakan (misalnya banjir yang melanda Jakarta), tidak serta merta bisa menghilangkan kebiasaan ini.
Oh ya, aku jadi teringat pernah membuat proposal sebagai tugas kuliah untuk menerapkan teori psikologi dalam lingkungan sehari-hari. Tema yang kupilih waktu itu tentang pengelolaan sampah yang ditujukan kepada anak SD supaya mereka sejak dini dapat belajar dari mengamati untuk mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Waktu bikin proposal itu sih dalam bayanganku dengan belajar sejak dini bisa membentuk perilaku mereka hingga dewasa. Tetapi melihat lagi kenyataan, dan berandai-andai ortu dari anak SD yg sudah belajar memisahkan sampah kemudian ortunya seperti penumpang mobil mewah di atas yang suka buang tisu dan punting rokok sembarangan, ah… sepertinya program itu akan sia-sia, mengingat anak kecil belajar dengan mengamati lingkungannya. Jadi kesimpulanku, hal semacam ini kembali ke kesadaran diri individunya.
Berikut ini aku share beberapa aksi hijau yang SUDAH kulakukan. Kalau yang SEBAIKNYA dilakukan kurasa sudah banyak dibahas di media manapun ya, tapi sekedar tahu saja tidak cukup, perlu tindakan nyata seperti di bawah ini:
  1. Bawa kantong belanjaan sendiri waktu ke minimarket/supermarket/hypermarket. Opsi lainnya kalau belanja bulanan yang biasanya segambreng itu, minta kasir untuk mengemasnya di kardus bekas air mineral atau mie instan, nantinya kardus ini bisa dimanfaatkan kembali di rumah, bisa juga dibawa ketika belanja bulanan berikutnya. Kalau boleh sebut merk, Carrefour Ambarukmo plasa sempat memberlakukan aturan bahwa mereka ga akan memberikan kantung plastik secara cuma-cuma, jadi konsumen punya opsi membawa kantung belanja sendiri atau membeli yang mereka sediakan di dekat kasir. Sayangnya peraturan ini ga berlangsung lama, mungkin terlalu ekstrim untuk masyarakat Indonesia yang “otomatis” mendapat kantung plastik secara gratis setelah belanja hahaha.. mungkin masyarakatnya juga yang belum siap dengan perubahan tersebut. Padahal bisa jadi contoh yang baik untuk swalayan lainnya kan… swalayan lain seperti Superindo memberikan semacam reward bagi konsumen yang membawa kantung belanja sendiri berupa stamp yang bila dikumpulkan bisa mendapat keuntungan tertentu, menurutku usaha ini cukup bagus kalau terus diberlakukan ga hanya saat ada promo. Pengalamanku di minimarket, kalau aku bilang ga usah pakai kantung plastik pasti responnya agak cengok trus ngeliatin aku dengan pandangan aneh, eyyy males banget ya.. beda ketika ke toko Gunung Agung Jakarta, aku nolak kantung plastik langsung diberi senyuman dan ucapan terima kasih. Juga waktu ke TBS Senayan City aku nolak paper bag karena lagi bawa tote bag, kasirnya keliatan happy banget sambil ngucapin terimakasih. Nah kalau feedback yang didapat positif seperti dua kasus terakhir ini pastinya konsumen mendapat penguatan untuk melakukannya lagi.
    kemana-mana sekarang bawa tote bag ini
  2. Memisahkan sampah sachet, digunting rapi terlebih dahulu (contoh: sachet bungkus kopi, deterjen, pewangi, pelicIn pakaian, bungkus mie instan). Dengan melakukan pemisahan yang rapi ini kita bisa membantu pengrajin barang daur ulang lho. Sebenarnya akan jauh lebih baik lagi kalau kita mengurangi konsumsi barang yang dikemas dalam sachet. Misalnya lebih memilih kopi tubruk dibanding kopi sachet, lebih memilih deterjen kemasan besar daripada sachet kecil. Bahkan dari yang pernah kubaca, sebaiknya kita membeli sabun cair atau minyak goreng dalam kemasan botol dibandingkan kemasan refill, karena botol ini nantinya akan dicacah lalu didaur ulang. Errrr tapi ada hal yang jadi “tantangan” untuk melakukan pemisahan sampah ini, yaitu pemulung. Udah capek-capek kita memisahkan sampah, eh sama pemulungnya diacak-acak, grrrr… kalau udah gini kayanya mending mengamankan sampah yang kita pisahkan sampai tukang angkut sampah datang.
    kapan di Indonesia begini? (pic from God's Gift-14Days)
    sachet kosong dikumpulin di plastik tersendiri
  3. Bawa botol minum sendiri. Sekarang banyak pilihan tumbler warna warni atau berbentuk lucu sebagai tempat minum, yang terpenting selalu lihat labelnya apakah tumbler tersebut memang aman untuk makanan dan minuman, bisa juga pilih yang BPA-free. Jika terpaksa beli air minum dalam kemasan, begitu habis langsung saja diremas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemasan tersebut dipakai ulang, karena pada dasarnya air minum dalam kemasan dirancang hanya untuk sekali pakai.
    crush it properly
  4. Kalau suka online shopping, pilih olshop dengan packaging yang ramah lingkungan seperti paper bag atau paper box dari bahan daur ulang. Biasanya olshop yang menggunakan paper bag ini harganya lebih mahal sih, tapi kalau untuk menyelamatkan lingkungan kurasa ga masalah.
  5. Beli bubur ayam bawa rantang/wadah sendiri, karena berdasarkan pengamatanku selama ini penjual bubur ayam memakai styrofoam sebagai wadah untuk take away. Padahal styrofoam tidak akan pernah bisa terurai, ditambah lagi bahan tersebut dapat mengeluarkan racun yang berbahaya bagi tubuh kita ketika terkena makanan panas. Aku memaklumi mereka memilih Styrofoam untuk menekan biaya, makanya harus kita yang sadar diri akan bahayanya bagi kesehatan dan lingkungan. 
mari saling mengingatkan (pic from Let's Eat)

(pic from Let's Eat)

Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk pengelolaan sampah ini, berhubung aku sendiri masih belajar jadi ya pelan-pelan menjadikannya sebagai kebiasaan. Mau share aksi hijau yang sudah kamu lakukan? Boleh banget komen di bawah.


12.11.2013

Pudding Frenzy

Huwaah.. blog ini udah lama juga dianggurin. Sebenernya ide untuk nulis di blog ini banyak banget, tapi saking banyaknya malah ga ada yang berhasil diekseskusi -___-“ Bakal jadi PR nih menuangkan ide di kepala satu per satu..

Kali ini aku mau cerita beberapa waktu yang lalu aku ketagihan bikin puding. Ya secara mau masuk musim hujan panasnya kebangetan, bikin pengen menyantap sesuatu yang adem-adem di kulkas. Apalagi ternyata setelah setahun lebih menikah aku mengamati suamiku punya hobi yang unik: buka kulkas. Bangun tidur buka kulkas, pulang kerja buka kulkas, habis makan nasi dan minum smoothies yang harusnya ngenyangin tetep aja buka kulkas. Ga tau lagi deh dianya pengen ngumpet di kulkas tapi kulkasnya ga muat apa gimana yak 


Nah, daripada suamiku buka kulkas ga ada makanan apa-apa, aku jadi kepikiran bikin makanan yang bisa disimpen di kulkas. Pilihan jatuh pada puding. Selain relatif lebih gampang, cepat, dan praktis, cocok juga dengan Jakarta yang waktu itu lagi hot-hotnya. Ga perlu mixer atau oven. Tinggal cemplung, dimasak sampai mendidih, biarkan dingin, masukin kulkas, siap disantap deh. Yum!

Apa aja puding yang sempat kubikin? Yang paling simpel sih tinggal ke minimarket beli puding instan yang tinggal nambah air doang, hehehe.. ada juga yang nyontek resep dari food blogger favoritku. Ini dia foto-fotonya, walaupun ga semua terdokumentasikan sih..
Dua foto pertama ini puding susu nutrijel yang bisa didapatkan di swalayan manapun. Alasan beli ini? Pertama karena aku lebih suka  puding susu daripada puding santan. Kedua karena kemasannya menggoda banget buat dibeli hahaha… yang sebelah kiri puding susu mangga, aroma mangganya bener-bener deh, kalau ga ada penampakannya mungkin bisa dikira buah mangga beneran bukan puding. Yg sebelah kanan rasa cappucinno, aku juga suka banget sama aromanya yang wangi kopi, cocok lah buat penggemar kopi sepertiku. Serius ini bikin ketagihan sampai ga bertahan lama di kulkas, comot dikit-dikit eh tahu-tahu udah habis aja. Selain dua rasa ini juga udah pernah nyobain yang cokelat dan strawberry, yang caramel kapan-kapan ah, masuk wishlist pastinya.

Berikut ini pake meracik dulu tapi tetep simpel, puding susu oreo yang kuambil dari sini. Pertama bikin rasanya terlalu manis di lidahku, jadi waktu bikin kali kedua takaran gulanya aku kurangi soalnya dari biskuit oreonya udah manis. 
Terus yang ini jadi favorit suami juga, puding jagung yang kumodifikasi dari sini, susunya kuganti dengan susu low fat dan gulanya dikurangi juga. Alhamdullillah enak dan manisnya pas.
Masih banyak nih resep puding yang pengen dicoba, terutama yang menggabungkan puding dengan cake atau yang berlapis. Jadi pengen deh beli cetakan puding yang lucu-lucu #modus

5.29.2013

Twitshare: Pameran Arsitektur dalam 140 karakter

Beberapa hari lalu aku berbagi cerita melalui twitter tentang kunjunganku yang tidak sengaja ke benteng Vredeburg. Sebenarnya hanya mengantar saudara sepupu yang ingin jalan-jalan ke museumnya, ternyata di pelatarannya juga ada acara pameran yang diselenggarakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM, yaitu Wiswakharman Expo 2013. Selain pameran juga ada food and fashion bazaar dan live music. Tentunya karena tidak sengaja jadi tidak didukung oleh peralatan yang memadai (baca: kamera yang layak, maklum kamera hp kualitasnya pas-pasan, bukan gadget mania :D). Tak ada kamera bukan menjadi halangan untuk berbagi, karena bagaimanapun event semacam ini sangat menarik buatku (note: khusus share hal yang serius gini pake kata “saya” hehehe…)

1.       Hal menarik pertama adalah “ruang” pameran sederhana bertajuk Ruang Empati, bikin pengunjung jadi penasaran
2.      Ruang empati ini berisi beberapa rancangan yg selain berbentuk unik, juga sekaligus dapat membantu mengatasi permasalahan sosial di jogja
3.      Sebagian besar rancangan dinamai dg kalimat dlm bhs Jawa yg dibuat akronim, salah satu yg nancep di otak: KOSAPIR, kowe ra sah mlipir
4.      KOSAPIR ini sbnrnya ditujukan utk pejalan kaki yg haknya “dijajah” oleh PKL yg berjualan di sepanjang trotoar sehingga pejalan kaki hrs mlipir
5.      Inti dr KOSAPIR ini membuatkan tempat tersendiri bagi PKL sehingga pejalan kaki memperoleh haknya dgn berjalan nyaman di trotoar
6.      Selain rancangan2 yg memiliki empati thd permasalahan sosial, juga ada ppameran foto lho, dan saya ikut voting :D
7.      Selain KOSAPIR juga ada konsep rancangan yg bagi saya physically menarik sekaligus dapet juga empatinya, ga salah dinamai Ruang Empati
8.      Kalo ga salah namanya Gonjoru (panggon kerjo lan turu), tempat kecil yg bisa untuk berdagang tanpa mengesampingkan sisi ergonomis utk tdr
9.      Selain itu juga ada rancangan shelter untuk becak yg bs utk istirahat mengingat banyak penarik becak yg msh tidur sembarangan di jalan
10.  Yg jelas saya suka dr pameran itu sih krn bener2 memperjuangkan hak2 pedestrian :D mengingat sekarang pengendara motor jg lwt trotoar

Nah, itu dia poin-poin yang sudah aku twit dan kutulis ulang di sini. Banyak singkatan? Namanya juga twitter yang dibatasi 140 karakter :) Sebetulnya masih banyak hal menarik yang belum tertuang, tapi keburu udah lupa *alesan*
Mudah-mudahan sih konsep ruang empati untuk Jogjakarta tidak hanya berhenti berupa rancangan semata, tapi bisa direalisasikan demi kota Jogja yang lebih nyaman.


5.10.2013

Lemon or Ginger Tea, Honey?


Errrr… ternyata sudah hampir 6 bulan sejak terakhir posting blog, hampir setengah tahun bo’!! Padahal ya ngga sibuk-sibuk amat juga -___-
Oke, kita mulai dengan posting dari yang…paling…simpel…*ngga usah pake mikir*


Entah sejak kapan musim di Indonesia mulai ngga jelas, salah musim. Walaupun hanya ada musim kemarau dan musim hujan, tetapi kedua musim tersebut biasanya berjalan menurut waktu yang bisa diprediksikan. Mungkin… sejak adanya global warming sehingga keseimbangan alam menjadi terganggu, yang waktunya sudah musim hujan jadi masih kemarau… yang waktunya sudah musim kemarau masih saja hujan…
Kalau sudah seperti ini kondisinya, bener-bener harus bisa jaga badan biar ngga mudah terserang penyakit. Salah satu andalanku ketika badan mulai terasa kurang fit yaitu minum teh jahe yang dicampur madu, atau teh biasa dikucuri perasan lemon dan ditambah madu sebagai pemanisnya. Biar lebih mantap, pake jahe asli yang dimemarkan dong. Kalau niat banget bisa pake jahe biasa, bukan jahe gajah yang dijual di supermarket pada umumnya. Jahe biasa pedasnya lebih nampol, di badan juga berasa lebih hangat.
Aku pribadi lebih suka yang alami meski agak ribet ya mesti menggeprak jahe dulu. Bagi yang ngga suka ribet dan mau yang praktis, teh jahe instan bisa jadi pilihan sih, tergantung selera aja.

Yang dibutuhkan:

merk optional yah, aku paling suka produk ini

jahe yang siap dimemarkan (ini gambar nyomot dari mbah google)

iris sedikit trus peras airnya buat campuran teh (nyomot dari mbah google juga)

Daaaan jangan sampai ketinggalan tehnya yaa

12.18.2012

Vacation (?)


Selama aku di Jogja termasuk jarang didatangi keluarga. Berhubung kali ini ada request dari keponakan yang sudah ngebet main ke Jogja, datanglah dia berdua saja bersama mamaku naik kereta api. Karena misi dari mamaku ingin menyenangkan hati cucunya, jadi aku menyarankan jauh-jauh hari untuk mengunjungi Taman Pelangi/Lampion di Monjali dan Taman Pintar. Kedua tempat ini sebenarnya ga mutlak untuk anak-anak lhoo.. remaja dan orang dewasa juga pasti suka ke tempat tersebut, tapiii pastinya akan lebih menyenangkan buat anak-anak hihihi…
Kami ke Taman Pelangi setelah maghrib, karena bukanya dari jam 5 sore dan bagusnya memang malam hari sih secara pesonanya terletak pada lampion yang bentuknya lucu-lucu itu. Kalau di Jatim ada tempat semacam ini juga bernama BNS (Batu Night Spectacular).
Komentar yang keluar pertama dari keponakanku begitu kami sampai di lokasi adalah: “Wow, indahnyaa…” bikin aku pengen ketawa sekaligus salut dia bisa ajaib gitu komentarnya.
Selain lampion warna warni beraneka bentuk, di Taman Pelangi juga ada beberapa permainan yang bisa dicoba. Salah satu yang kusarankan untuk keponakanku adalah trampolin, mengingat sejak dia bisa berjalan hobinya lompat-lompat di kasur, sekalian sajalah kusuruh lompat di trampolin. Cukup bayar IDR 10.000 dan bisa lompat sepuasnya. Setelah itu dilanjutkan foto-foto bersama lampion dan naik kereta mengelilingi monumen Monjali. Tak lupa aku dan mama mengendarai helicak (semacam odong-odong) dan keponakan duduk manis di belakang karena kakinya belum cukup panjang untuk mengayuh pedal. Selain itu masih ada becak, sepeda tandem, bola air, bombom car, tapi belum sempat dijajal karena kelaparan. Kabar baiknya tiket masuk hanya dihitung untuk orang dewasa saja, anak-anak gretong yay! *lho, yang anak-anak siapa siiih :D

Lampion bunga

Lampion ayam
Esoknya kami ke Taman Pintar berangkat pagi. Walaupun bukan hari libur sekolah tapi tampaknya selalu ramai di sana, apalagi kalau makin siang/sore. Aku beli tiket untuk berkeliling di gedung Oval. Awalnya kami ke gedung kecil yang berisi sejarah Kraton dan Presiden RI serta tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia. Lalu mulai masuk gedung oval sifatnya lebih ke pengetahuan tentang sains. Sebut saja tata surya, spektrum cahaya, kotak simulasi gempa, air, kekayaan alam, metamorphosis katak, dan masih banyaaaak yang lainnya. Tak ketinggalan tentang kesenian khas Indonesia, misalnya saja batik, wayang kulit, gamelan, miniatur Borobudur. Ehem, dan keponakanku sepertinya “kaget” melihat pemandangan itu jadinya pengen dicoba semuanya sekaligus, padahal kan bisa dinikmati satu per satu sepuasnya… (tantenya protes :P)

foto bersama Presiden RI ke-1 sampai ke-6

belum ke aslinya, sama miniaturnya duyuu ;p

aku belajar membatik nih
di depan gedung oval


 Intinya, ngeliat keponakan seneng, tantenya ikut seneng bisa nganter keponakan ke tempat yang menyenangkan dengan harga tiket yang termasuk murmer, tempat mudah dijangkau pula. Mudah-mudahan ke depannya tempat semacam ini lebih banyak dan lebih baik lagi. Daripada nge-mall yang ngga mendidik tapi malah mengajari anak untuk jadi konsumtif, lebih baik ke tempat dimana anak bisa bermain dan belajar tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.

11.08.2012

Dari Indocraft sampai Pasar Indonesia


September lalu aku beli syal KaLu (katun lurik) waktu beli kain tenun titipan ibu mertua di Malioboro Mall Yogyakarta. Setelah dibeli dan dicoba sebagai kerudung, bagus juga ternyata, jadi pengen beli lagi :D tapi karena pameran pasti hanya sampai batas waktu tertentu. Dari brosur yang kuambil, aku langsung cari akun Facebooknya dan langsung add as a friend supaya update ketika dia mengadakan atau bergabung di event tertentu. Pucuk dicita ulam tiba, KaLu mengikuti event Pasar Indonesia di JCC Senayan pada hari ketika aku juga berencana ke Jakarta. Ibu mertua ikut bersemangat mendengar berita ini :D
Aku pun tiba di Jakarta 6 Oktober subuh, sarapan lalu istirahat, mandi terus capcus ke JCC. Ternyata di sana ada beberapa pameran yang diadakan selain Indocraft dan Pasar Indonesia, seperti embroidery festival dan pameran finansial (yang jelas aku ngga berminat mengunjungi yang terakhir ini :P). Nah, yang kami tuju pertama kali adalah Indocraft yang didominasi oleh kain batik dari berbagai penjuru Indonesia, tiap stand yang berdekatan dikelompokkan dalam propinsi yang sama, tinggal pilih mau lihat atau beli batik dari daerah mana. Aku menemani ibu mertua berkeliling dan sempat agak lama berhenti di satu stand, ah aku lupa batik daerah mana, kain yang ditawarkan berkisar mulai 100.000 hingga jutaan Rupiah, wew… setelah gagal tawar menawar dengan penjualnya, kami pun beranjak dari sana.
Keluar dari Indocraft, kami dipersuasi ditawari oleh penjaga stand majalah Martha Stewart Living untuk mengikuti workshop gratis di salah satu ruangan. Kebetulan ibu mertua juga sering membeli majalah tersebut. Jelas ini sangat dadakan dan dimulainya workshop sekitar 10-15 menit lagi. Kami melongok ke dalam, peserta juga belum terlalu banyak. Bingung juga workshopnya ini tentang apa. Akhirnya kami memutuskan bergabung (mumpung gretongan), dan suami terpaksa mengungsi ke tempat lain untuk “membunuh” waktu. Aha… ternyata kami diajari step by step mengaplikasikan siluet di atas tote bag. Dan uniknya, siluet yang dipakai adalah siluet masing-masing peserta. Jadi setiap peserta yang ikut difoto dulu dari arah samping (kalo bawa papan nama udah berasa tahanan aja kali ya) lalu ditransfer ke laptop untuk dicetak di kertas HVS. Bahan dan alat yang dibutuhkan ada freezer paper, cat poster, spons, cutter, pensil. Caranya dengan menjiplak foto kita tadi di atas freezer paper, sisinya dipotong menggunakan cutter, lalu potongan luar siluet tersebut ditempel ke tote bag dengan cara menyetrikanya, terakhir menepuk-nepukkan cat poster yang ditambah sedikit air menggunakan spons. Kemudian tunggu hingga mengering dan mulai bisa menjahit sisi-sisi tas. Kalau ngga suka memakai siluet diri kita sendiri, bisa juga diganti dengan siluet binatang-binatang lucu misalnya anjing, kucing, kelinci, atau… siluet anak kecil yang rambutnya diikat ekor kuda lucu juga lho.
Aku sendiri merasa senang mengikuti kegiatan semacam ini, walaupun sedikit kurang puas dengan hasil pengecatan yang mbleber (maaf aku ngga menemukan kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya), bisa jadi karena penyetrikaan yang kurang panas dan rapi, atau juga karena pencampuran air yang terlalu banyak pada cat poster. Tapi lumayan lah at least tahu cara pembuatannya dan bisa mengulang kembali proses tersebut, Insya Allah..
Ini dia hasil prakaryaku.. berhubung dari jauh jadi ngga begitu kelihatan bagian yang mbleber..

mau bikin hidung kita lebih mancung atau bulu mata lebih lentik? bisa banget! :D
Selesai dengan workshop dadakan ini, kembali ke misi awal dong untuk mencari stand KaLu di Pasar Indonesia. Eiiitss,,, sebelumnya musti isi perut dulu karena sudah memasuki jam makan siang. Tak perlu jauh-jauh, di dalam gedung sudah disediakan aneka masakan nusantara, mulai nasi goreng, sate ayam ponorogo, rujak cingur, rujak manis, gudeg, pempek dan masih banyak lainnya. Menggiurkan bukan? Di antara sekian banyak, ibu mertua memilih nasi goreng yang penyajiannya lebih cepat dan tempatnya yang paling terjangkau, mengingat antrean panjang dimana-mana. Rasanya? Menurutku so-so. Sebenarnya kalau mau lebih murah bisa mencari di luar gedung seperti yang dilakukan suamiku, hmm ya berhubung perut ini sudah protes minta diisi terpaksa memilih yang dekat.
Akhirnya kami sampai juga di Pasar Indonesia, dari segi tempat dan layout lebih terlihat berkelas dibandingkan pameran Indocraft. Barang yang dijual pun lebih beragam. Selain bermacam-macam kain khas Indonesia seperti batik, tenun, dan songket, beberapa juga menjual baju yang sudah jadi, tas etnik, kerajinan, aksesoris, fashion items berbahan kulit asli, pun jajanan/snack khas Indonesia dari beberapa daerah. Sambil menunggu mertua yang tertahan di satu tenant karena terjadi tawar-menawar yang cukup alot, aku jalan-jalan sendiri tapi tidak terlalu jauh, melihat-lihat barang yang akhirnya hanya membuatku lapar mata *sigh.. ada kalung-kalung etnik, lace dress dengan warna pastel, bolero dari songket yang keren abis, cropped jacket berbahan batik. Judulnya: diriku tergoda! Karena basically aku emang betah di tempat yang menjual barang-barang etnik sih. Tapi mengingat belum ada anggaran untuk beli barang-barang ini ya sudah ditahan dulu mupengnya, cuma bisa berharap ada event lagi seperti ini pas aku ada rejeki lebih hehe..
Akhirnya ketemu juga stand KaLu yang kami cari, dan cukup kaget karena barang di rak untuk display sudah tinggal sedikit, pengunjung yang sedang memilih dan menawar di situ pun masih betah berlama-lama. Aku langsung mengincar syal-syal yang diletakkan begitu saja di bawah, terutama warna-warna netral, ibu mertua juga memilih beberapa syal dan satu kain lurik motif jarum kecer berwarna kuning. Ini dia hasil perburuanku, yang dua di kiri di Pasar Indonesia, paling kanan itu yang pertama kali kubeli.

maaf kalau kualitas gambar kurang bagus, dari kamera untuk whatsapp sih :P
Sebenarnya masih kurang puas dengan menipisnya stok, walaupun penjualnya menjanjikan akan mendatangkan barang lagi dari Jogja untuk pameran keesokan harinya, yah untuk ukuran Jakarta yang kemana-mana jadi jauh karena macet, bikin males deh ke situ lagi.
Setelah berkeliling dari siang sampai sore di JCC Senayan hari itu, aku jadi berkesimpulan bahwa kain buatan Indonesia itu cantik-cantik. Memang harganya cukup mahal, tapi kurasa itu setara dengan bahan dan proses pembuatan yang rumit. Agak heran aja dengan orang Indonesia yang gampang banget belanja baju di luar negeri, nanti kalau produk negaranya diklaim baru protes habis-habisan, menuduh negara tersebut maling dan sebagainya. Kalau bukan kita sendiri yang melindungi hasil karya negara kita, siapa lagi?
hasil perburuan lain: bros batu alam kalimantan yang dipasang di atas syal KaLu, cantik ya? :)

9.19.2012

Kekkon Journal Part 4: Antara Mitos dan Fakta


Masih segar dalam ingatan, menjelang hari H pernikahan kami dikelilingi oleh sejumlah “nasihat” yang hmm… bikin serba salah. Kalau diturutin kok ya aneh, kalau ga diturutin nanti dipersalahkan misalnya terjadi apa-apa.
Pertama, soal hari baik. Dari jaman kakakku menikah tahun 2006 yang lalu, kedua orangtua dan kakakku tidak “menganut” kepercayaan tentang hari baik. Mereka langsung menentukan tanggal untuk akad nikah, resepsi, dan ngunduh mantu tanpa ba-bi-bu, pokoknya tanggal sekian. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Ternyata pada saat aku akan menikah, masih ada saudara yang menawarkan diri untuk mencarikan hari baik bagi kami, padahal mereka tahu sendiri keluarga intiku berpedoman bahwa semua hari adalah baik, karena Allah SWT yang menciptakannya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka kita?
Kedua soal pingitan. Tradisi pingitan ini entah dari mana asal muasalnya, yang aku tahu beberapa orang berbeda-beda pendapatnya mengenai berapa hari calon pengantin dipingit. Ada yang 40 hari, 30 hari, bahkan seminggu sebelum hari H. Setelah sharing dengan salah satu teman dekat, ternyata dia sampai H-1 masih sibuk mengurus tetek bengek bersama calon suaminya, dan toh ga kenapa-kenapa juga, acara mereka tetap berjalan dengan lancar. Karena aku pun lebih banyak mengurus ini-itu sendirian, jadi ketika acara di rumah dimulai Kamis, pada hari Senin aku masih fitting baju untuk resepsi hari Sabtunya. Sempat ngeri juga kalau denger cerita ada calon pengantin yang pergi-pergi menjelang hari H terus mengalami kecelakaan :’( yah, intinya banyak-banyak berdoa dan selalu berhati-hati, menjaga diri.
Ketiga berhubungan dengan cuaca. Seminggu sebelum hari H pernikahanku memang cuacanya ga bisa ditebak, kadang paginya cerah lalu siang tiba-tiba mendung, bahkan sempat hujan. Lalu ada orang yang menyarankan supaya nanti ketika aku menjalani rentetan acara tidak usah mandi dan keramas supaya ga hujan. Nah, apa hubungannya coba? Ga masuk akal kan? Lagipula, apa tahan tuh keringetan terus ga mandi, kasihan dong suamiku :D Mama juga pernah cerita kalau ada orang yang percaya bahwa cara untuk menghalau hujan ketika mengadakan hajat adalah dengan menaruh (maaf) celana dalam di atas tenda, ewwww....
Ujung-ujungnya, kami mengembalikan semuanya ke pencipta dan penguasa alam semesta yaitu Allah SWT. Mama menyarankan supaya kami sekeluarga membaca surat Al-Lahab setiap selesai sholat fardhu, dan berdoa memohon diberikan kelancaran. Bagaimanapun juga manusia tidak dapat melawan hukum alam. Kalau pada saat itu memang terjadi hujan, ya kita hanya bisa berdoa agar sementara dijauhkan dulu dari hujan.
Alhamdulillah, pelaksanaan semua acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar, aku bisa tetap mandi dan keramas seperti biasanya tanpa khawatir akan hujan, dan memang terbukti cuaca cerah terus menerus pada waktu itu.
Mungkin kamu pernah punya pengalaman dengan mitos seperti ini juga atau ada yang lain? Boleh di-share lho.

9.12.2012

Intermezzo

Ajining diri saka lathi, Ajining sarira saka busana 


Setiap melewati perempatan Kentungan dari arah selatan, aku pasti akan membaca tulisan tersebut, dan sebenarnya itu semacam slogan yang dimiliki oleh sebuah boutique agak jauh di belakangnya. Kalimat yang pertama itulah yang menarik perhatianku dan memunculkan sebuah pemikiran tentang kebenarannya. Lebih kurang artinya begini: “kebaikan atau harga diri seseorang dilihat dari tutur katanya” (kalau salah mohon dikoreksi ya). Kalau kalimat yang kedua, errr…. ga ngerti arti kata sarira-nya sih, hehe..
Menurutku pribadi, pernyataan pertama itu tidak berlaku untuk semua kasus. Karena ada orang yang tutur katanya agak kasar dan blak-blakan, tapi sesungguhnya hatinya amatlah baik dan tulus. Sebaliknya, ada juga yang tutur katanya halus dan baik, tidak pernah berkata kasar, tapi ternyata semua itu palsu, hatinya busuk. Yahh… intinya kembali ke pribadi masing-masing lah.
Sekian dan terimakasih.

9.06.2012

Cafelicious


Rasanya kurang “afdhol”kalau aku menamai blog ini kohilover sementara aku belum membahas sesuatu pun yang berkaitan dengan kopi :P kecuali iseng-iseng modifikasi cangkir kopi dengan puisi  yang jadinya seperti di postingan sebelumnya berjudul Modifying Two Cups . Aku jadi tergelitik nulis ini juga setelah baca tulisan teman lama tentang Segelas Susu Soda .
Sejak kecil aku hobi icip-icip kopi punya papa, tapi baru bener-bener berasa “ketagihan” itu waktu kuliah. Di rumah, aku bukan satu-satunya penyuka kopi, papa-mama dan kakakku juga suka kopi. Terutama yang mereka sukai adalah kopi tubruk, kalau aku sih tergantung suasana hati dan kebutuhan aja, kadang diselingi kopi instan juga kok hehe… eh punya pasangan juga suka kopi, klop dah!
Sepertinya “ritual” ngopi saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, terbukti dengan menjamurnya coffee shop di kota besar maupun kota yang sedang berkembang, mulai dari gerai terkenal yang menguras isi dompet sampai yang terjangkau uang saku mahasiswa :D
Nah, ini ceritanya aku bikin review tentang beberapa tempat yang pernah aku kunjungi di Jogja selama 3 tahun terakhir, bukan promosi lho yaa.. jadi opini pribadi dan info yang sekiranya bermanfaat buat yang pengen nongkrong sambil ngopi. Yuk disimak satu per satu.

Rumah Coklat (Coklat Café)
Aku pertama kali menjajal ngopi ala café di jogja ya di sini, terletak di jalan Teuku Cik Di Tiro. Tempatnya nyaman dan bernuansa rumahan.  Sesuai namanya, menu utama di sini adalah minuman cokelat yang disajikan baik panas maupun dingin. Selain itu juga bermacam-macam latte, snack, sliced cake, es krim  yang bisa dinikmati mulai pukul 12 siang. Pilihan tempat ada indoor dan outdoor, dan untuk indoor kita bisa memilih duduk di kursi atau sofa. Oh ya, koneksi wi-fi di sini termasuk kenceng juga lho, jadi rugi kalau jauh-jauh ke sini ga bawa gadget, hehe..semakin malam tempat ini akan semakin ramai, jadi kalau mau suasananya agak tenang ya datanglah siang atau sore hari.


es krim dengan rasa mocca yang nendang banget

semua serba cokelat kecuali yang tengah itu cafe latte

yum!

fusili atau sosis? silakan dipilih ;p

Kofe Noir
Karena tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, jadi aku emang ditakdirkan untuk ke coffee shop yang ada di jalan Kaliurang km.7 ini, hehe… lebay yak? :P
Awalnya cuma penasaran tiap pergi-pulang PKP ke pusat rehabilitasi Yakkum melewati tempat ini, dari papan namanya terkesan elegan gitu. Setelah masuk dan mencoba beberapa menunya, aku dan pasangan jadi memfavoritkan tempat ini, dan kami sepakat bahwa tempat ini dibuat/dibangun dengan passion. Kami selalu memilih tempat di lantai 2. Walaupun letaknya di pinggir jalan, tapi ketika masuk seperti tenang dan jauh dari keramaian, sambil ngopi bisa baca-baca majalah dan main game yang disediakan, atau menikmati lagu-lagu yang ngetrend tahun 1990an, juga browsing internet dengan koneksi wi-fi yang lumayan kenceng. Harganya memang agak mahal, tapi sesuai kok sama kualitas yang didapatkan. Menu yang jadi andalan di sini sih homemade apple pie, tapi aku suka banget sama spaghetti-nya.
Oh ya, sejak tahun ini (aku lupa tepatnya bulan apa) ada Mooikitchen yang bergabung di lantai 1, menu andalannya klappertaart dan cupcake. Klappertaart-nya emang juara! Untuk info lebih lanjut cek saja akun twitternya Kofe Noir dan Mooikitchen, kadang ada promo menarik lho.


chocolate pancake, mengenyangkan buatku (kalau ga salah 3 atau 4 lapis)

coffee blended-nya enaaak

homemade apple pie

three musketeers

suasana di lantai 2 sore hari

Momento
Hmm… aku hanya dua kali datang ke tempat ini. Pertama dengan teman, yang kedua dengan pasangan. Dari segi tempat sebenarnya cukup nyaman, tapi sayangnya antara perokok dan non perokok tidak dipisah sehingga cukup mengganggu bagi yang tidak suka atau alergi dengan asap rokok. Dan entah kenapa dua kali kesana kok ga bisa menikmati menunya dengan khusyuk ya :D koneksi internetnya juga biasa aja. Bagi yang suka dan boleh minum alkohol, di sini tersedia Irish coffee.

Flo Coffee
Sama dengan Momento, aku datang ke Flo Coffee dua kali. Pertama waktu dia buka mulai sore, banyak majalah yang bisa dibaca-baca di situ. Yang kedua waktu tempatnya sudah direnovasi dan buka mulai siang, karena bareng banyak teman dan buru-buru jadi ga sempat menikmati suasananya. Minuman dan snack yang ditawarkan enak dan variatif, sayang aku kurang suka dengan tempatnya. Dan bagi anda yang kelaparan mungkin akan kurang puas karena ga ada makanan berat. 
Update: aku baru tau kalo Flo Coffee sudah berganti nama menjadi Lagani Coffee, mungkin sejak direnovasi itu kali ya, buka mulai jam 9 pagi sampai 11 malam. For more info, follow its account twitter here.


Djendelo Koffie
Terletak di atas toko buku Togamas jalan Affandi, coffee shop ini punya daya tariknya sendiri, yaitu nama menu minumannya menggunakan nama di dunia pewayangan. Bisa banget lho habis belanja buku kita menikmati minuman di sini sambil baca buku atau menikmati pemandangan orang lalu lalang beli buku, tapi baru buka sore hari yaitu pukul 16.30. Kalau kecepatan koneksi internetnya standar sih. Dan sayangnya menu camilan yang disediakan kurang variatif, hanya ada gorengan dan roti. Cukup oke lah kalau ingin menikmati minuman tanpa rasa lapar yang berarti.



Kopi Oey (dahulu: Kopi Tiam Oey)
Aku tau tempat ini buka di Jogja awalnya dari Twitter, secara dia sudah punya nama gitu lho. Salah seorang teman pernah mencari tempat ini tapi ga ketemu, hihihi… ya udah akhirnya aku liat di google map aja, ternyata tempatnya sejalan dengan Indoguna dan Takigawa. Pertama dan baru sekali ke tempat ini cukup pagi, waktunya sarapan gitu deh. Jadi aku dan pasangan memilih roti bakar corned beef dan minumannya dilmah tea sama apa ya….lupa!
Selain nama menu yang unik-unik (coba cek menu makanan dan minuman), tempatnya juga eksotik, serasa dibawa ke jaman dan tempat yang berbeda ketika masuk ke ruangan yang di dalam (karena juga ada yang outdoor).
Sayang aku ga ambil gambar makanan dan minuman yang aku pesan. Tapi info dan penampakannya bisa dicek di sini.

Update: Perubahan nama dari Kopi Tiam Oey menjadi Kopi Oey dikarenakan adanya satu pihak yang mengklaim "Kopitiam" sebagai merk, berita selengkapnya bisa disimak di sini

By the way, aku belum menemukan (atau mengunjungi?) coffee shop yang menyediakan single origin, sementara di Malang bertebaran dimana-mana. Emang aku belum nyobain ngopi di angkringan karena denger-denger sih kopinya udah dicampur macem-macem. Terlepas bener atau ga, kalau pengen ngopi yang agak murah sih aku beli atau nitip kopi di Serambi Botani produk IPB dan bikin sendiri di rumah. Kopinya asli kopi Indonesia, suka banget sama aromanya kopi Mandailing dan kopi Bali Kintamani, harganya juga terjangkau dibandingkan yang beredar di supermarket. Barangkali ada yang mau ngasih kado frenchpress? Diterima dengan senang hati lho, hehehehehe….. 
Update (lagi): akhirnya aku nemu juga coffee shop yang menjual single origin, yaitu Warung Kopi Sruput yang ada di Dixie Square Gejayan. aku belum nyobain siiih, waktu ke sana sudah terlanjur pesan Tiramisu hehehe... Mari ngopi!