Tampilkan postingan dengan label human. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label human. Tampilkan semua postingan

3.23.2014

Green is Easy

"BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA"


Siapa yang ga pernah menjumpai tulisan tersebut?
Kalau membaca sih aku yakin anak TK jaman sekarang pun bisa, tapi apakah semua orang benar-benar menerapkannya? Pada kenyataannya engga. Sama halnya orang yang merokok di tempat yang jelas-jelas terpampang tulisan DILARANG MEROKOK. Di socmed beberapa kali kubaca ada yang menemui orang membuang sampah dari jendela mobil mewahnya, dibuang di jalanan begitu saja. Jangankan di socmed ya, aku sendiri juga pernah menyaksikan penumpang mobil mewah yang membuang puntung rokok saat berhenti di traffic light, juga membuang sampah tisu di tikungan jalan protokol. Lalu perayaan tahun baru yang menyisakan banyak sampah di bundaran HI. Juga minimnya ketersediaan tempat sampah ketika ada kegiatan semacam “pasar senggol”. Kalau dilihat lagi, kasus yang pertama lebih mengarah pada perilaku penumpang mobil mewah yang kurang sesuai dengan atribut yang ia bawa, sedangkan kasus yang kedua melibatkan kurangnya sarana sekaligus kesadaran masyarakat untuk menahan diri membuang sampah begitu saja di lokasi kegiatan. Kalau soal sarana sih, tinggal nambah tempat sampah aja udah selesai masalah. Paling-paling kepentoknya masalah dana *teuteup*. Tapi kalau soal mental dan kelakuan, pengetahuan yang diperoleh dari edukasi aja ga cukup, mesti ada kesadaran diri untuk melakukannya. Sekalipun efek yang ditimbulkan dari perilaku tidak bertanggung jawab ini sudah langsung dirasakan (misalnya banjir yang melanda Jakarta), tidak serta merta bisa menghilangkan kebiasaan ini.
Oh ya, aku jadi teringat pernah membuat proposal sebagai tugas kuliah untuk menerapkan teori psikologi dalam lingkungan sehari-hari. Tema yang kupilih waktu itu tentang pengelolaan sampah yang ditujukan kepada anak SD supaya mereka sejak dini dapat belajar dari mengamati untuk mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Waktu bikin proposal itu sih dalam bayanganku dengan belajar sejak dini bisa membentuk perilaku mereka hingga dewasa. Tetapi melihat lagi kenyataan, dan berandai-andai ortu dari anak SD yg sudah belajar memisahkan sampah kemudian ortunya seperti penumpang mobil mewah di atas yang suka buang tisu dan punting rokok sembarangan, ah… sepertinya program itu akan sia-sia, mengingat anak kecil belajar dengan mengamati lingkungannya. Jadi kesimpulanku, hal semacam ini kembali ke kesadaran diri individunya.
Berikut ini aku share beberapa aksi hijau yang SUDAH kulakukan. Kalau yang SEBAIKNYA dilakukan kurasa sudah banyak dibahas di media manapun ya, tapi sekedar tahu saja tidak cukup, perlu tindakan nyata seperti di bawah ini:
  1. Bawa kantong belanjaan sendiri waktu ke minimarket/supermarket/hypermarket. Opsi lainnya kalau belanja bulanan yang biasanya segambreng itu, minta kasir untuk mengemasnya di kardus bekas air mineral atau mie instan, nantinya kardus ini bisa dimanfaatkan kembali di rumah, bisa juga dibawa ketika belanja bulanan berikutnya. Kalau boleh sebut merk, Carrefour Ambarukmo plasa sempat memberlakukan aturan bahwa mereka ga akan memberikan kantung plastik secara cuma-cuma, jadi konsumen punya opsi membawa kantung belanja sendiri atau membeli yang mereka sediakan di dekat kasir. Sayangnya peraturan ini ga berlangsung lama, mungkin terlalu ekstrim untuk masyarakat Indonesia yang “otomatis” mendapat kantung plastik secara gratis setelah belanja hahaha.. mungkin masyarakatnya juga yang belum siap dengan perubahan tersebut. Padahal bisa jadi contoh yang baik untuk swalayan lainnya kan… swalayan lain seperti Superindo memberikan semacam reward bagi konsumen yang membawa kantung belanja sendiri berupa stamp yang bila dikumpulkan bisa mendapat keuntungan tertentu, menurutku usaha ini cukup bagus kalau terus diberlakukan ga hanya saat ada promo. Pengalamanku di minimarket, kalau aku bilang ga usah pakai kantung plastik pasti responnya agak cengok trus ngeliatin aku dengan pandangan aneh, eyyy males banget ya.. beda ketika ke toko Gunung Agung Jakarta, aku nolak kantung plastik langsung diberi senyuman dan ucapan terima kasih. Juga waktu ke TBS Senayan City aku nolak paper bag karena lagi bawa tote bag, kasirnya keliatan happy banget sambil ngucapin terimakasih. Nah kalau feedback yang didapat positif seperti dua kasus terakhir ini pastinya konsumen mendapat penguatan untuk melakukannya lagi.
    kemana-mana sekarang bawa tote bag ini
  2. Memisahkan sampah sachet, digunting rapi terlebih dahulu (contoh: sachet bungkus kopi, deterjen, pewangi, pelicIn pakaian, bungkus mie instan). Dengan melakukan pemisahan yang rapi ini kita bisa membantu pengrajin barang daur ulang lho. Sebenarnya akan jauh lebih baik lagi kalau kita mengurangi konsumsi barang yang dikemas dalam sachet. Misalnya lebih memilih kopi tubruk dibanding kopi sachet, lebih memilih deterjen kemasan besar daripada sachet kecil. Bahkan dari yang pernah kubaca, sebaiknya kita membeli sabun cair atau minyak goreng dalam kemasan botol dibandingkan kemasan refill, karena botol ini nantinya akan dicacah lalu didaur ulang. Errrr tapi ada hal yang jadi “tantangan” untuk melakukan pemisahan sampah ini, yaitu pemulung. Udah capek-capek kita memisahkan sampah, eh sama pemulungnya diacak-acak, grrrr… kalau udah gini kayanya mending mengamankan sampah yang kita pisahkan sampai tukang angkut sampah datang.
    kapan di Indonesia begini? (pic from God's Gift-14Days)
    sachet kosong dikumpulin di plastik tersendiri
  3. Bawa botol minum sendiri. Sekarang banyak pilihan tumbler warna warni atau berbentuk lucu sebagai tempat minum, yang terpenting selalu lihat labelnya apakah tumbler tersebut memang aman untuk makanan dan minuman, bisa juga pilih yang BPA-free. Jika terpaksa beli air minum dalam kemasan, begitu habis langsung saja diremas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemasan tersebut dipakai ulang, karena pada dasarnya air minum dalam kemasan dirancang hanya untuk sekali pakai.
    crush it properly
  4. Kalau suka online shopping, pilih olshop dengan packaging yang ramah lingkungan seperti paper bag atau paper box dari bahan daur ulang. Biasanya olshop yang menggunakan paper bag ini harganya lebih mahal sih, tapi kalau untuk menyelamatkan lingkungan kurasa ga masalah.
  5. Beli bubur ayam bawa rantang/wadah sendiri, karena berdasarkan pengamatanku selama ini penjual bubur ayam memakai styrofoam sebagai wadah untuk take away. Padahal styrofoam tidak akan pernah bisa terurai, ditambah lagi bahan tersebut dapat mengeluarkan racun yang berbahaya bagi tubuh kita ketika terkena makanan panas. Aku memaklumi mereka memilih Styrofoam untuk menekan biaya, makanya harus kita yang sadar diri akan bahayanya bagi kesehatan dan lingkungan. 
mari saling mengingatkan (pic from Let's Eat)

(pic from Let's Eat)

Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk pengelolaan sampah ini, berhubung aku sendiri masih belajar jadi ya pelan-pelan menjadikannya sebagai kebiasaan. Mau share aksi hijau yang sudah kamu lakukan? Boleh banget komen di bawah.


5.29.2013

Twitshare: Pameran Arsitektur dalam 140 karakter

Beberapa hari lalu aku berbagi cerita melalui twitter tentang kunjunganku yang tidak sengaja ke benteng Vredeburg. Sebenarnya hanya mengantar saudara sepupu yang ingin jalan-jalan ke museumnya, ternyata di pelatarannya juga ada acara pameran yang diselenggarakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM, yaitu Wiswakharman Expo 2013. Selain pameran juga ada food and fashion bazaar dan live music. Tentunya karena tidak sengaja jadi tidak didukung oleh peralatan yang memadai (baca: kamera yang layak, maklum kamera hp kualitasnya pas-pasan, bukan gadget mania :D). Tak ada kamera bukan menjadi halangan untuk berbagi, karena bagaimanapun event semacam ini sangat menarik buatku (note: khusus share hal yang serius gini pake kata “saya” hehehe…)

1.       Hal menarik pertama adalah “ruang” pameran sederhana bertajuk Ruang Empati, bikin pengunjung jadi penasaran
2.      Ruang empati ini berisi beberapa rancangan yg selain berbentuk unik, juga sekaligus dapat membantu mengatasi permasalahan sosial di jogja
3.      Sebagian besar rancangan dinamai dg kalimat dlm bhs Jawa yg dibuat akronim, salah satu yg nancep di otak: KOSAPIR, kowe ra sah mlipir
4.      KOSAPIR ini sbnrnya ditujukan utk pejalan kaki yg haknya “dijajah” oleh PKL yg berjualan di sepanjang trotoar sehingga pejalan kaki hrs mlipir
5.      Inti dr KOSAPIR ini membuatkan tempat tersendiri bagi PKL sehingga pejalan kaki memperoleh haknya dgn berjalan nyaman di trotoar
6.      Selain rancangan2 yg memiliki empati thd permasalahan sosial, juga ada ppameran foto lho, dan saya ikut voting :D
7.      Selain KOSAPIR juga ada konsep rancangan yg bagi saya physically menarik sekaligus dapet juga empatinya, ga salah dinamai Ruang Empati
8.      Kalo ga salah namanya Gonjoru (panggon kerjo lan turu), tempat kecil yg bisa untuk berdagang tanpa mengesampingkan sisi ergonomis utk tdr
9.      Selain itu juga ada rancangan shelter untuk becak yg bs utk istirahat mengingat banyak penarik becak yg msh tidur sembarangan di jalan
10.  Yg jelas saya suka dr pameran itu sih krn bener2 memperjuangkan hak2 pedestrian :D mengingat sekarang pengendara motor jg lwt trotoar

Nah, itu dia poin-poin yang sudah aku twit dan kutulis ulang di sini. Banyak singkatan? Namanya juga twitter yang dibatasi 140 karakter :) Sebetulnya masih banyak hal menarik yang belum tertuang, tapi keburu udah lupa *alesan*
Mudah-mudahan sih konsep ruang empati untuk Jogjakarta tidak hanya berhenti berupa rancangan semata, tapi bisa direalisasikan demi kota Jogja yang lebih nyaman.


9.03.2012

Kekkon Journal Part 3


Hohoho… awalnya kukira hari-hari menjelang pernikahan ada waktu luang untuk menulis kekkon journal, ternyata malah mangkrak :P daripada ga dilanjutin kok kesannya nanggung, walaupun agak telat yah ga apa-apa kan aku tulis pelan-pelan…
Seperti yang kujanjikan pada tulisan sebelumnya, kali ini  aku akan menulis hal-hal nonteknis yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dan dipikirkan setelah hari H terlewati. Bekal ini aku dapatkan ketika menjalani praktik kerja profesi selama 2 bulan di salah satu Puskesmas di Sleman, Yogyakarta. Setiap calon pengantin yang sudah mendaftar ke KUA dihimbau untuk datang ke Puskesmas melakukan pemeriksaan kesehatan, mendapatkan konseling gizi, dan konsultasi psikologi dengan harga paket yang terjangkau.
Nah, poin-poin apa saja yang disoroti dalam aspek psikologis? Hal ini membuat beberapa klien bertanya-tanya dengan keingintahuan mereka yang sangat tinggi, terutama untuk klien yang mengenyam pendidikan lebih tinggi. Selain pertanyaan standar seperti berapa lama hubungan yang dijalin oleh calon pengantin sebelum memutuskan untuk menikah, lalu hal apa yang membuat mereka merasa sudah waktunya untuk menikah, juga ada semacam pedoman pertanyaan seperti yang akan kujabarkan di bawah ini:

Pernikahan seperti apa yang ingin diwujudkan?
Menanggapi pertanyaan seperti ini, sebagian besar menjawab “sakinah, mawaddah, warrohmah”. Kalau yang agak sedikit “kreatif” biasanya akan menjawab keluarga yang bahagia, rukun, saling mencintai, dst. Bahkan ada yang tidak mampu menjelaskan pernikahan seperti apa yang dia inginkan. Menurutku hal ini kembali pada masing-masing individu, dia menikah atas dasar pertimbangan dan motivasi apa. Namun  karena pernikahan itu menyatukan dua individu, dua raga, dua pemikiran, maka perlu ada komunikasi antar pasangan mengenai visi dan misi pernikahan. Kalau sejalan tidak akan menjadi masalah, tetapi kalau berbeda? Berarti perlu dikomunikasikan kembali supaya dapat menjembatani perbedaan tersebut.

Setelah menikah akan langsung memiliki anak atau menunda terlebih dahulu?
Idealnya memang setiap pasangan yang menikah juga akan merencanakan kehamilan, namun beberapa pasangan memiliki alasan tertentu untuk menundanya. Misalnya calon istri masih ingin lanjut bekerja dan menabung sebelum merencanakan kehamilannya. Ada juga pasangan yang tidak terlalu memikirkan hal ini, jadi kalau bisa cepat hamil ya diterima dengan senang hati, seandainya belum juga tidak jadi masalah. Mau memilih yang manapun itu adalah hak setiap pasangan, tetapi poin pentingnya di sini adalah komunikasi dengan pasangan, jangan sampai misalnya istri ingin menunda tetapi suami ingin segera memiliki momongan dan perbedaan tersebut malah menimbulkan perselisihan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalau keduanya ingin menunda, bisa memilih apakah dengan cara yang alami (sistem kalender) atau menggunakan alat kontrasepsi. Untuk pilihan kedua sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan ahlinya.

gambar diambil dari http://www.pharmacynews.com.au

Setelah menikah akan tinggal di rumah sendiri atau dengan orangtua/mertua?
Idealnya (lagi), pengantin baru setelah menikah memilih untuk memiliki rumah sendiri. Selain bisa mengelola rumah tangga seperti yang diinginkan, pasangan suami istri baru juga bisa belajar mandiri mengatasi setiap permasalahan rumah tangga.
Namun tak sedikit juga yang masih tinggal bersama orangtua/mertua dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Konsekuensinya pengantin baru akan menghadapi lebih banyak penyesuaian, tidak hanya penyesuaian dengan sifat-sifat pasangan yang belum muncul selama proses mengenal sebelum menikah, tetapi juga dengan sifat dan kebiasaan orangtua/mertua. Konsekuensi yang lebih jauh lagi mengenai urusan tempat tinggal ini akan terasa ketika pasangan tersebut memiliki anak, yaitu adanya intervensi dari pihak lain dalam mengasuh dan merawat anak. Apapun kondisinya tetap disyukuri aja ya, karena pasti masing-masing ada hikmahnya, jadi tak perlu berkecil hati.

gambar diambil dari  http://www.photo-dictionary.com/phrase/4603/family-house.html#b 

Setelah menikah bagaimana dan siapa yang mengelola keuangan rumah tangga?
Disadari atau tidak, soal keuangan termasuk isu yang sensitif.  Bisa saja awalnya jadi masalah yang sepele namun suatu saat jadi masalah besar yang memicu perceraian. Apakah istri juga bekerja atau tidak, tetap harus ada kesepakatan yang jelas apakah istri menerima dan memegang seluruh nafkah yang diberikan suami, lalu uang tersebut akan dialokasikan untuk apa saja, berapa jumlah yang disisihkan untuk ditabung, dan seterusnya.

gambar diambil dari  http://infocus.emc.com/dave_bagatelle/financial-planning-static-vs-probabilistic/ 

Itulah “sekelumit” aspek pernikahan yang aku rangkum dalam beberapa poin dari pengalamanku memberikan konseling caten, semoga bisa membantu pasangan-pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan.


1.04.2012

2011: Pain and Pleasure

Mumpung momennya masih awal pergantian tahun dari 2011 ke 2012, saya mau sedikit kilas balik peristiwa yang terjadi pada 2011, baik yang menyakitkan maupun yang menyenangkan. Namanya juga hidup, tidak melulu sedih tetapi juga bahagia. Tidak melulu mulus jalannya, tetapi pasti ada “kerikil”-nya. Hmm.. mari kita mulai dari bagian yang negatif dulu, hehe...

Pain

Yang saya maksud disini bukan dalam artian secara fisik saja, tetapi juga batin. Karena dua aspek ini akan saling mempengaruhi satu sama lain, sudah seperti lingkaran setan!
Sakit fisik yang sering saya alami selama 2011 ini mulai dari alergi yang kambuhnya sering tidak jelas, nyeri punggung/bahu sebelah kiri, migraine di sebelah kiri (juga).
Dari kecil saya punya alergi, ini juga turunan dari keluarga saya. Dan saya juga tahu bahwa alergi ini tak bisa disembuhkan, yang bisa dilakukan ya dengan menghindari sumbernya. Sejauh ini yang saya tahu, saya alergi dengan debu dan udara dingin, setelah itu pasti akan bersin-bersin seharian tanpa henti. Yang paling menyiksa adalah saya jadi tidak bisa melakukan apa-apa ketika penyakit satu ini kambuh.
Soal sakit punggung, bahu, dan migraine yang seringnya di sebelah kiri, saya masih belum tahu apakah memang ada hubungannya atau pemicu tertentu. Paling tidak, 2011 ini saya mulai jarang flu dibanding tahun-tahun sebelumnya, saya mulai membiasakan rutin makan buah. Walaupun masih kurang teratur untuk urusan makan tepat waktu atau olahraga rutin :P (nasib anak kost). Penanganan alergi bisa dibaca di kaskus.
Selain yang sifatnya fisik, juga ada penyakit hati.. Luka yang entah akan sembuh atau tidak. Ini bukan pertama kalinya saya punya konflik dengan orang yang saya anggap sahabat. Konflik yang ujung-ujungnya membuat saya kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Yang membuat kali ini terasa lebih menyakitkan adalah bahwa dia orang pertama yang bisa saya percaya untuk saya anggap sebagai sahabat, tetapi dia kemudian meninggalkan saya dengan judgment tertentu terhadap saya. Saya sudah melakukan beberapa hal untuk menjalin hubungan kembali dengannya, tapi malah mendapat respon yang makin menambah luka. Setahun berlalu sudah sejak kejadian tersebut. Meskipun saya sudah bisa mengambil hikmah ataupun sisi positif dari kejadian ini, tetapi saya susah lupa, apalagi kalau ada pemicunya. Saya jadi teringat perkataan seorang dosen favorit saya, bahwa kelemahan orang yang punya ingatan yang baik adalah berpotensi jadi pendendam. Kemungkinan itu ada dalam diri saya, tapi mudah-mudahan saya masih diberi kebesaran hati untuk memaafkan..
Terkadang ada juga hal-hal kecil yang bikin uneasy. Komentar negatif ataupun overinvolvement dari orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang diri kita. Tapi yah.. kita tidak bisa mengontrol omongan orang, jadi saya yang harus belajar cuek.

Pleasure

Pleasure di sini bisa berarti hal menyenangkan yang bisa bikin saya keranjingan, bisa juga hal baru yang membuat saya excited :D
“Prestasi” terbesar saya selama 2011 adalah pergi ke Jakarta sendirian. Bagi orang lain mungkin hal tersebut adalah hal yang biasa, tetapi bagi saya yang diperlakukan overprotektif oleh orangtua maka hal tersebut adalah sesuatu yang luar biasa, karena itulah saya menyebutnya “prestasi”. Walaupun pada akhirnya saya merasa bersalah pada orangtua karena tidak pamit dan berujung pada kekecewaan orangtua terhadap saya, di sisi lain saya merasa puas bisa “mendobrak” tembok yang selama ini membelenggu saya untuk sekedar bertemu teman-teman lama di ibukota. Teman-teman yang selama ini meski jauh tetapi tetap ada ketika saya butuh. Tentunya hal ini tak akan terlaksana tanpa bantuan dari Anto Murpratomo dan keluarganya.
Mulai 2011 ini, saya juga keranjingan drama Korea. Demi memenuhi hobi lama yang bersemi kembali, saya beli harddisk eksternal (awalnya ngutang, sekarang udah lunas dong :P), ke warnet langganan untuk meng-copy drama yang direkomendasikan beberapa teman, dibelain begadang pula untuk menyelesaikan satu judul. Menjelang akhir tahun, saya mengalami kejenuhan dengan cerita yang itu-itu saja, jadinya beralih ke variety show yang lebih menyegarkan. Bicara soal drama Korea, tak ketinggalan juga Korean Pop. Insya Allah ada tulisan khusus tentang pokok bahasan ini (biar termotivasi nulis lagi).
Kesenangan lainnya yaitu saya mulai bikin blog ini lho,, yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. Memang masih belum rutin menulis sih, at least cukup membuat saya tetap “waras” :D

Semua hal yang tercantum dalam pain and pleasure di atas tetap membawa konsekuensi tersendiri buat saya, ada aspek-aspek lain dalam kehidupan saya yang masih perlu diseimbangkan. Oleh karena itu, dengan bercermin pada pengalaman di 2011 ini, semoga membawa harapan akan perubahan yang lebih baik bagi kehidupan saya. Yosh… Ganbarimasu! \(^_^)/

11.01.2011

Setahun Erupsi Merapi

Sekitar setahun yang lalu, antara bulan Oktober-Nopember masyarakat Jogja dibuat sibuk, cemas, dan mungkin beberapa diantaranya berduka karena erupsi Merapi. Ya... setahun telah berlalu, dan kenangan itu tetap membekas buat saya. Tulisan yang akan saya share di sini sebelumnya sudah pernah di-share di note Facebook. Tetapi rasanya tak lengkap kalau pengalaman setahun lalu yang berharga ini tidak saya publikasikan di blog ini juga.

10.02.2011

Birthday Blast

Hari lahir saya sudah lewat lebih dari seminggu yang lalu, ini adalah ulang tahun ketiga saya selama di Jogja, masing-masing punya cerita berbeda. Mungkin tidak terlalu istimewa karena tidak dirayakan di rumah makan mewah atau diberi kejutan di kos oleh teman-teman ataupun kehadiran kekasih, tapi bagi saya semuanya berkesan.


Untuk tahun ini saya memang menginginkan sesuatu yang berbeda. Saya mengatur supaya tanggal lahir saya di social media hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja. Bukannya saya ngga pengen dikasih ucapan selamat atau ngga pengen didoain yang bagus-bagus, atau malah karena ngga pengen dimintai traktiran. Bukan itu. Saya pengen tahu apakah teman-teman yang saya anggap dekat masih ingat tanggal lahir saya tanpa diingatkan oleh social media. Kalaupun tak ingat, it can’t be helped.. Misal ada yang benar-benar ingat, pastinya ucapan itu menurut saya akan lebih bermakna, lebih tulus tanpa basa basi. Kalau ada yang tidak sependapat dengan saya, it’s ok.. nyatanya saya justru mendapat lebih banyak ucapan lewat SMS, dan satu-satunya SMS yang saya terima tengah malam hanya dari pusat informasi Psikologi UGM :D

Ada yang “unik” dari ultah saya tahun ini, unik diberi tanda kutip ini karena memang ga biasa, malah cenderung sepi-sepi saja, hehe… waktu itu pagi-pagi saya ditelpon mama, lalu ada nomor lain yang masuk, saya pun minta ijin untuk menerima telpon yang satunya lagi. Ternyata di depan kos sudah ada kurir yang mengantar kardus kue besar. Dari tutupnya yang bening saya bisa melihat sebuah tiramisu dengan tulisan Selamat Ulang Tahun Sayang di atasnya, aww… jadi malu sama kurirnya nih :”)
Saya lihat jam di ponsel, bahkan ini belum pukul 6, jam pengiriman kue yang ngga biasa, hehe.. Bahkan saking “sakral”nya tiramisu ini, saya sudah dikirimi pesan beberapa kali yang menanyakan apakah tiramisunya enak, saya jawab “Sabar ya, masih di kulkas, ntar mandi dulu biar bersih dan wangi baru ngicipin tiramisu.” Mungkin yang disana sudah gelisah menunggu live report dari saya :p
Taraa…! Sebelum kardus dibuka, saya potret dulu dari berbagai sisi. Dan tiramisunya enaaak, saya langsung semangat menghabiskan dua potong, walaupun pengennya potongan pertama buat yang ngirimin tiramisu ini T.T
Karena ngga mungkin menghabiskannya sendirian, saya bagikan ke beberapa teman kos, dan menawari teman kampus untuk main ke kos.




Lalu saya ingat kalau hari itu saya “dipingit”, maksudnya ngga boleh keluar kemana-mana, nunggu surprise yang kedua. Sampai sore, sampai saya ngantuk ditahan-tahan, sampai saya bosen ngenet, surprise yang kedua ini tak kunjung datang. Ohlala ternyata….baru datang esok harinya. Alhasil saya hari itu jadi ngga produktif deh. Demo na.. daijoubu desu, isinya setara dengan menunggunya, hehe…




Birthday wishes?? Ah,, itu biar saya dan Tuhan yang tahu. Saya hanya perlu lebih banyak bersyukur, saya diberi sehat, diberi teman-teman dan kekasih yang perhatian, dan keluarga yang utuh :)

10.01.2011

Women's Talk

              Ga tua, ga muda. Kalo cewek-cewek pada ngumpul, topik pembicaraannya ya itu-itu aja. Cowok, relationship, gosip. Walaupun itu-itu aja, tapi toh ga pernah bosen diomongin. Meskipun bagi teman-teman saya tergolong pendiam, tapi ga munafik ah, saya juga ngelakuin itu kok. Tetapi pernah sekali waktu saya di tempat praktik, maksud hati sih mengakrabkan diri dengan pegawai yang lain, yang terjadi akhirnya saya malah memaksakan senyum. Memang usia mereka di atas saya, sudah berkeluarga, wajar saja yang diomongin soal peralatan rumah tangga, eh kemudian berubah topik ngomongin orang lain yang saya ga kenal dan ga tau wujudnya. Ngok! Saya berasa alien, jadi kemudian saya memilih mundur teratur. Mau diomongin sebagai calon psikolog yang sombong atau ga bergaul ya terserah.

            Nah, apalagi kalau cewek-cewek ini segerombolan mahasiswa psikologi ya, “ritual” itu ditambah dengan observasi dan menganalisis. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, saya makan berempat  di tempat makan yang mengusung konsep Go Green, mulai dari tempat yang banyak tanaman, pemesanan tanpa kertas (pakai PDA), sampai pengemasan yang meminimalisir penggunaan plastik (untuk yang dibungkus). Kami memilih tempat di lantai 2 yang agak sepi. Yang satu sibuk nyeritain gebetan brondongnya sampai buku menu dianggurin gitu aja, yang satu lagi euphoria blogging jadinya serius ngadepin notebooknya, yang satu lagi ngemil topping cupcake yang tebelnya amit-amit, saya sebagai outsider (maksudnya jarang ngumpul sama mereka :p) asik-asik aja dengerin cerita tentang brondong. Sambil ngobrol ini itu, pesan makanan ini itu, ngetwit ini itu.

            Cerita brondong udah selesai, sasaran berikutnya adalah empat orang cewek yang duduk di meja sebelah kami. Kenapa mereka akhirnya jadi sasaran? Awalnya kami terganggu banget karena salah satu dari mereka yang selesai makan langsung ngerokok dan arah angin sedang tidak bersahabat, alhasil asap rokok itu mengarah ke kami yang sedang menikmati makanan. Kegiatan observasi-analisis pun dimulai. Dari pengamatan kami yang ga penting dan agak kurang kerjaan itu didapatkan kesimpulan yang belum tentu valid karena tidak dilengkapi dengan autoanamnesa, haha.. singkat kata, cewek itu hanya korban pergaulan semata, yang ngerokok karena pengen dianggep gaul, bukan karena kebutuhan. Kami pun mengomentari wajahnya yang kusam (salah satu efek rokok tadi), gaya ngomongnya pake “lo-gue” tapi pengucapannya sampe kaya kecekik gitu. Padahal ya, belum tentu juga dia berasal dari Jakarta, yang asli Jakarta aja mungkin ga segitunya.

            Sasaran kemudian berpindah karena salah satu dari kami mendengar dan (kebetulan) melihat sepasang cowok-cewek duduk berhadapan dan cowoknya bilang “Kita putus aja gimana?”
Ouchh….Kemudian kami mengamati gesture si cowok yang menunjukkan tanda-tanda kecemasan, makanan-makanan yang tak lagi disentuh, si cewek yang hanya diam dan menunduk.. Daaan.. sayang sekali sodara-sodara, kegiatan ini musti dihentikan karena si cewek yang notabene membelakangi kami itu menoleh, hehehe… lalu mereka berdua memutuskan pergi. Memang bukan salah mereka kalau memilih ketemuan di tempat makan (“daripada diputusin lewat telpon”, kata seorang dari kami ;p), tapi bukan salah kami juga karena keberadaan mereka yang cukup menarik perhatian kami yang kurang kerjaan ini :D

             Karena “kegiatan” semacam ini hanya dilakukan oleh cewek, maka hanya bisa dimengerti oleh cewek :D

4.02.2011

Trans Jogja and Positive Parenting


Kalau ada yang bertanya-tanya apa hubungannya antara Trans Jogja dan Positive Parenting, saya jawab memang ga ada korelasinya, hehehe… ini adalah salah satu dari pengalaman saya waktu naik bus Trans Jogja dari shelter terminal Jombor sampai shelter Kentungan. Bukan perjalanan yang cukup panjang memang, tapi sangat berkesan meski beberapa bulan telah berlalu, tapi baru sekarang bisa tertuang dalam tulisan. Dan apa yang membuat pengalaman ini berkesan, adalah bagaimana seorang bapak melakukan pendidikan yang patut dicontoh oleh orangtua lainnya.
      Kronologisnya, seorang bapak masuk ke dalam bus dengan tergesa bersama anak laki-laki. Sekilas melihat si bapak, saya mbatin “Bapak iki kok sangar yo, rambut kribo, gondrong, dikuncir, brewokan pisan.” Tak lupa celana dan jaket berbahan denim yang melengkapi tampilan ala “preman” itu. Melihat anaknya, saya mbatin lagi “Iki moso’ anake?? Gak mirip blas!” karena si anak berambut lurus dan kurus, sedangkan bapaknya agak gemuk, selain tekstur rambut tadi.
      Begitu masuk bus, anak ini mengambil tempat duduk di sebelah saya, tapi dia langsung menaikkan sepatunya diatas jok, hmm… sesuatu yang wajar dilakukan anak seusianya saat naik kendaraan. Efuoria. Apa yang dikatakan bapaknya?
      “Kamu mau duduk disini?”
      “Iya.”
      “Oke, boleh.. tapi bapak minta maaf ya.. kamu kan pakai sepatu, kalau kakimu naik di sini nanti kotor..”
      “Berarti sepatunya dilepas?”
      “Hm.. kalau pakai sepatu sandal ga apa-apa, kan gampang dilepasnya. Tapi kamu kan pakai sepatu, jadi agak susah..”
      Anak itupun menurunkan kakinya. “Buseeeet, tampilan boleh sangar, tapi tutur katanya ga sesangar tampangnya, ga gengsi pula minta maaf ke anaknya” batin saya lagi.
      Rupanya, anak ini cukup “aktif”, ga seberapa lama setelah menurunkan kaki, dia berdiri tanpa pegangan padahal bus tersebut akan berbelok dan menyeberang.
“Bapak, aku ga jatuh lho..” sambil ketawa-ketawa.
“Yaa… mungkin bisa jatuh, mungkin juga engga.. tapi, kamu harus tau resikonya, kalau nanti jatuh ya ga boleh nangis.”
Dan anak itupun kembali memilih duduk setelah badan dia oleng ke kanan-kiri ga beraturan.
“Kita mau kemana, Pak?”
“Ke bandara, jemput ibu.”
Ponsel berdering, bapak itu mengangkat telpon…
Iseng-iseng saya bertanya nama anak itu, dijawab sekenanya tapi waktu ditanya sekolahnya ga digubris, ya sudah.. saya diam.
Setelah bapak itu menutup telpon, dia berbicara lagi ke anaknya, lagi-lagi dengan tutur kata yang halus.
“Dengerin bapak. Pesawatnya ibu nanti kan datangnya terlambat, jadi kita ke Mrican dulu ya, ke rumah si B biar nunggu di bandaranya ga terlalu lama. Kan kita ga boleh kalau ada di bandara terlalu lama.”
“Tapi jadi ke bandara?”
“Jadi, tapi kita mampir berhenti di Mrican dulu..”
Hening.
“Oiya..tadi ditanya sama kakak tuh, sudah dijawab belum?”
He noticed. Anaknya diem aja.
“Ya, tadi tanya namanya sudah dijawab, tapi tanya sekolahnya belum dijawab,” saya menimpali.
“Oh, namanya T**o, artinya pohon yang kuat. Sekolahnya TK A, tapi ga suka dianggap masih kecil jadi ngakunya TK B, hehehe…”
Bus lalu berhenti di depan traffic light.
“Bapak, kenapa ya, kalau lampunya merah kita berhenti, kalau lampunya emas siap-siap, tapi kalau hijau baru boleh jalan?”
“Wah, kalau itu sudah kesepakatan banyak orang, jadi jangan tanya bapak kenapa.”
Seluruh penumpang spontan tertawa. Padahal jawaban standar orangtua “ya sudah dari sananya” atau “kalau ga begitu ya ditangkap polisi”.
Ah..ga terasa sudah sampai shelter Kentungan ternyata, padahal masih ingin mendengar celoteh anak itu dan bagaimana bapak itu menanggapinya dengan bijak.

Berdasar pengalaman tersebut, menurut jadi orangtua memang gampang-gampang susah, apalagi jaman sekarang yang anak-anaknya makin cerdas dan kritis. Jadi orangtua ya harus pinter juga, harus bisa setara dan menjadi sahabat bagi anak tanpa harus kehilangan wibawa sebagai orangtua. Walaupun pada akhirnya ga ada orangtua yang sempurna, termasuk orangtua kita sendiri, atau bahkan orang yang mengerti psikologi anak sekalipun. Tapi setidaknya, kita memberikan yang terbaik untuk anak saat kita sudah menjadi orangtua, karena bagaimanapun juga perilaku anak adalah cermin dari perilaku orangtuanya.
Siapkah Anda menjadi orangtua? Bagaimana Anda akan mendidik anak Anda dan bekal apa yang sudah Anda punya? Pilihan ada di tangan Anda.

What a Life!


Orang jaman dulu bilang *ya engga dulu-dulu banget sih :P*... untuk jadi orangtua itu engga ada sekolahnya, Catherine-Zeta Jones dalam No Reservation pun berharap andai hidup itu ada resepnya...
Intinya, dalam menjalani hidup itu pasti akan berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Tetapi juga bukan berarti tinggal menjalani apa adanya tanpa pedoman, at least kita punya perbekalan berupa pengetahuan atau gambaran tentang seperti apakah hidup yang akan kita lalui ke depan, lebih bagus lagi kita bisa belajar dari pengalaman. Lagi-lagi engga harus kita sendiri yang mengalami, kita masih bisa belajar dari pengalaman hidup orang lain kok..termasuk dalam membina rumah tangga, misalnya belajar dari pengalaman berikut ini..

Seorang istri berusia 41 tahun, suaminya 36 tahun. Keduanya berencana untuk punya anak lagi..
“Ibu kerja apa?”
“Ya ibu rumah tangga biasa, mbak.”
“Kalau suaminya?”
“Ya serabutan, apa yang ada ya itu yang dijalani.”
“Sekarang ibu sudah punya anak berapa?”
“Dua, mbak. Laki-laki semua. Yang pertama umur 20 tahun, yang kedua umur 17 tahun.”
“Trus ibu pengen punya anak perempuan, begitu?”
“Hehehehe...maunya sih begitu kalau dikasih. Makanya saya minta tes kesuburan..”

Si suami sudah pergi duluan karena engga sabar nungguin si istri di ruang konsultasi, si istri pun diberi psikoedukasi bahwa usianya menjadi faktor utama kehamilan yang berisiko tinggi, belum lagi kalau punya anak lagi juga butuh biaya yang engga sedikit padahal kerjaan suaminya serabutan. Tapi si istri ini bilang “iya” dengan muka bengong.. *Bu, mudheng ga sih sama omongan saya?*

Setelah dirunut-nut-nut, kedua suami istri itu menikah karena dijodohkan oleh orangtua mereka *oke*, hingga saat ini biaya hidup mereka masih ditanggung orangtua *oh no!*. belum lagi anak yang pertama  pengangguran dan yang kedua masih duduk di bangku SMP dengan umur sekian karena sering bolos sekolah *chotto matte yo!*, dan alasan ingin punya anak lagi adalah supaya ada yang menemani si istri bekerja di dapur *wew*..

Mungkin kelihatannya mustahil bin mustajab :D, tapi inilah realita yang terjadi di masyarakat. Dan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman ini. Antara lain, kalau punya rencana ya harus berpikir panjang dan dikomunikasikan secara baik-baik dengan pasangan. Daripada punya anak lagi, mbok ya anak yang ada ini dididik yang bener, bagaimanapun anak adalah titipan. Yang pengangguran dikasih motivasi biar cepet dapet kerja, adiknya juga diperhatikan biar engga bolosan.  Kalo dipikir-pikir, tugas orangtua kok sepertinya berat yaa..*kalo gitu engga usah dipikir aja, hehe...*
Kesimpulan yang bisa aku ambil, jadi orangtua juga perlu kesiapan. Bukan cuma kesiapan materi, tapi juga kesiapan mental. Sekali lagi, karena engga ada pelajaran di sekolah soal bagaimana menjadi orangtua yang baik. Berat engga-nya ya relatif, kalau semua hal diniatkan untuk ibadah dan ikhlas, Insya Allah akan dimudahkan :)