Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan

5.29.2013

Twitshare: Pameran Arsitektur dalam 140 karakter

Beberapa hari lalu aku berbagi cerita melalui twitter tentang kunjunganku yang tidak sengaja ke benteng Vredeburg. Sebenarnya hanya mengantar saudara sepupu yang ingin jalan-jalan ke museumnya, ternyata di pelatarannya juga ada acara pameran yang diselenggarakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM, yaitu Wiswakharman Expo 2013. Selain pameran juga ada food and fashion bazaar dan live music. Tentunya karena tidak sengaja jadi tidak didukung oleh peralatan yang memadai (baca: kamera yang layak, maklum kamera hp kualitasnya pas-pasan, bukan gadget mania :D). Tak ada kamera bukan menjadi halangan untuk berbagi, karena bagaimanapun event semacam ini sangat menarik buatku (note: khusus share hal yang serius gini pake kata “saya” hehehe…)

1.       Hal menarik pertama adalah “ruang” pameran sederhana bertajuk Ruang Empati, bikin pengunjung jadi penasaran
2.      Ruang empati ini berisi beberapa rancangan yg selain berbentuk unik, juga sekaligus dapat membantu mengatasi permasalahan sosial di jogja
3.      Sebagian besar rancangan dinamai dg kalimat dlm bhs Jawa yg dibuat akronim, salah satu yg nancep di otak: KOSAPIR, kowe ra sah mlipir
4.      KOSAPIR ini sbnrnya ditujukan utk pejalan kaki yg haknya “dijajah” oleh PKL yg berjualan di sepanjang trotoar sehingga pejalan kaki hrs mlipir
5.      Inti dr KOSAPIR ini membuatkan tempat tersendiri bagi PKL sehingga pejalan kaki memperoleh haknya dgn berjalan nyaman di trotoar
6.      Selain rancangan2 yg memiliki empati thd permasalahan sosial, juga ada ppameran foto lho, dan saya ikut voting :D
7.      Selain KOSAPIR juga ada konsep rancangan yg bagi saya physically menarik sekaligus dapet juga empatinya, ga salah dinamai Ruang Empati
8.      Kalo ga salah namanya Gonjoru (panggon kerjo lan turu), tempat kecil yg bisa untuk berdagang tanpa mengesampingkan sisi ergonomis utk tdr
9.      Selain itu juga ada rancangan shelter untuk becak yg bs utk istirahat mengingat banyak penarik becak yg msh tidur sembarangan di jalan
10.  Yg jelas saya suka dr pameran itu sih krn bener2 memperjuangkan hak2 pedestrian :D mengingat sekarang pengendara motor jg lwt trotoar

Nah, itu dia poin-poin yang sudah aku twit dan kutulis ulang di sini. Banyak singkatan? Namanya juga twitter yang dibatasi 140 karakter :) Sebetulnya masih banyak hal menarik yang belum tertuang, tapi keburu udah lupa *alesan*
Mudah-mudahan sih konsep ruang empati untuk Jogjakarta tidak hanya berhenti berupa rancangan semata, tapi bisa direalisasikan demi kota Jogja yang lebih nyaman.


12.18.2012

Vacation (?)


Selama aku di Jogja termasuk jarang didatangi keluarga. Berhubung kali ini ada request dari keponakan yang sudah ngebet main ke Jogja, datanglah dia berdua saja bersama mamaku naik kereta api. Karena misi dari mamaku ingin menyenangkan hati cucunya, jadi aku menyarankan jauh-jauh hari untuk mengunjungi Taman Pelangi/Lampion di Monjali dan Taman Pintar. Kedua tempat ini sebenarnya ga mutlak untuk anak-anak lhoo.. remaja dan orang dewasa juga pasti suka ke tempat tersebut, tapiii pastinya akan lebih menyenangkan buat anak-anak hihihi…
Kami ke Taman Pelangi setelah maghrib, karena bukanya dari jam 5 sore dan bagusnya memang malam hari sih secara pesonanya terletak pada lampion yang bentuknya lucu-lucu itu. Kalau di Jatim ada tempat semacam ini juga bernama BNS (Batu Night Spectacular).
Komentar yang keluar pertama dari keponakanku begitu kami sampai di lokasi adalah: “Wow, indahnyaa…” bikin aku pengen ketawa sekaligus salut dia bisa ajaib gitu komentarnya.
Selain lampion warna warni beraneka bentuk, di Taman Pelangi juga ada beberapa permainan yang bisa dicoba. Salah satu yang kusarankan untuk keponakanku adalah trampolin, mengingat sejak dia bisa berjalan hobinya lompat-lompat di kasur, sekalian sajalah kusuruh lompat di trampolin. Cukup bayar IDR 10.000 dan bisa lompat sepuasnya. Setelah itu dilanjutkan foto-foto bersama lampion dan naik kereta mengelilingi monumen Monjali. Tak lupa aku dan mama mengendarai helicak (semacam odong-odong) dan keponakan duduk manis di belakang karena kakinya belum cukup panjang untuk mengayuh pedal. Selain itu masih ada becak, sepeda tandem, bola air, bombom car, tapi belum sempat dijajal karena kelaparan. Kabar baiknya tiket masuk hanya dihitung untuk orang dewasa saja, anak-anak gretong yay! *lho, yang anak-anak siapa siiih :D

Lampion bunga

Lampion ayam
Esoknya kami ke Taman Pintar berangkat pagi. Walaupun bukan hari libur sekolah tapi tampaknya selalu ramai di sana, apalagi kalau makin siang/sore. Aku beli tiket untuk berkeliling di gedung Oval. Awalnya kami ke gedung kecil yang berisi sejarah Kraton dan Presiden RI serta tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia. Lalu mulai masuk gedung oval sifatnya lebih ke pengetahuan tentang sains. Sebut saja tata surya, spektrum cahaya, kotak simulasi gempa, air, kekayaan alam, metamorphosis katak, dan masih banyaaaak yang lainnya. Tak ketinggalan tentang kesenian khas Indonesia, misalnya saja batik, wayang kulit, gamelan, miniatur Borobudur. Ehem, dan keponakanku sepertinya “kaget” melihat pemandangan itu jadinya pengen dicoba semuanya sekaligus, padahal kan bisa dinikmati satu per satu sepuasnya… (tantenya protes :P)

foto bersama Presiden RI ke-1 sampai ke-6

belum ke aslinya, sama miniaturnya duyuu ;p

aku belajar membatik nih
di depan gedung oval


 Intinya, ngeliat keponakan seneng, tantenya ikut seneng bisa nganter keponakan ke tempat yang menyenangkan dengan harga tiket yang termasuk murmer, tempat mudah dijangkau pula. Mudah-mudahan ke depannya tempat semacam ini lebih banyak dan lebih baik lagi. Daripada nge-mall yang ngga mendidik tapi malah mengajari anak untuk jadi konsumtif, lebih baik ke tempat dimana anak bisa bermain dan belajar tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.

11.08.2012

Dari Indocraft sampai Pasar Indonesia


September lalu aku beli syal KaLu (katun lurik) waktu beli kain tenun titipan ibu mertua di Malioboro Mall Yogyakarta. Setelah dibeli dan dicoba sebagai kerudung, bagus juga ternyata, jadi pengen beli lagi :D tapi karena pameran pasti hanya sampai batas waktu tertentu. Dari brosur yang kuambil, aku langsung cari akun Facebooknya dan langsung add as a friend supaya update ketika dia mengadakan atau bergabung di event tertentu. Pucuk dicita ulam tiba, KaLu mengikuti event Pasar Indonesia di JCC Senayan pada hari ketika aku juga berencana ke Jakarta. Ibu mertua ikut bersemangat mendengar berita ini :D
Aku pun tiba di Jakarta 6 Oktober subuh, sarapan lalu istirahat, mandi terus capcus ke JCC. Ternyata di sana ada beberapa pameran yang diadakan selain Indocraft dan Pasar Indonesia, seperti embroidery festival dan pameran finansial (yang jelas aku ngga berminat mengunjungi yang terakhir ini :P). Nah, yang kami tuju pertama kali adalah Indocraft yang didominasi oleh kain batik dari berbagai penjuru Indonesia, tiap stand yang berdekatan dikelompokkan dalam propinsi yang sama, tinggal pilih mau lihat atau beli batik dari daerah mana. Aku menemani ibu mertua berkeliling dan sempat agak lama berhenti di satu stand, ah aku lupa batik daerah mana, kain yang ditawarkan berkisar mulai 100.000 hingga jutaan Rupiah, wew… setelah gagal tawar menawar dengan penjualnya, kami pun beranjak dari sana.
Keluar dari Indocraft, kami dipersuasi ditawari oleh penjaga stand majalah Martha Stewart Living untuk mengikuti workshop gratis di salah satu ruangan. Kebetulan ibu mertua juga sering membeli majalah tersebut. Jelas ini sangat dadakan dan dimulainya workshop sekitar 10-15 menit lagi. Kami melongok ke dalam, peserta juga belum terlalu banyak. Bingung juga workshopnya ini tentang apa. Akhirnya kami memutuskan bergabung (mumpung gretongan), dan suami terpaksa mengungsi ke tempat lain untuk “membunuh” waktu. Aha… ternyata kami diajari step by step mengaplikasikan siluet di atas tote bag. Dan uniknya, siluet yang dipakai adalah siluet masing-masing peserta. Jadi setiap peserta yang ikut difoto dulu dari arah samping (kalo bawa papan nama udah berasa tahanan aja kali ya) lalu ditransfer ke laptop untuk dicetak di kertas HVS. Bahan dan alat yang dibutuhkan ada freezer paper, cat poster, spons, cutter, pensil. Caranya dengan menjiplak foto kita tadi di atas freezer paper, sisinya dipotong menggunakan cutter, lalu potongan luar siluet tersebut ditempel ke tote bag dengan cara menyetrikanya, terakhir menepuk-nepukkan cat poster yang ditambah sedikit air menggunakan spons. Kemudian tunggu hingga mengering dan mulai bisa menjahit sisi-sisi tas. Kalau ngga suka memakai siluet diri kita sendiri, bisa juga diganti dengan siluet binatang-binatang lucu misalnya anjing, kucing, kelinci, atau… siluet anak kecil yang rambutnya diikat ekor kuda lucu juga lho.
Aku sendiri merasa senang mengikuti kegiatan semacam ini, walaupun sedikit kurang puas dengan hasil pengecatan yang mbleber (maaf aku ngga menemukan kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya), bisa jadi karena penyetrikaan yang kurang panas dan rapi, atau juga karena pencampuran air yang terlalu banyak pada cat poster. Tapi lumayan lah at least tahu cara pembuatannya dan bisa mengulang kembali proses tersebut, Insya Allah..
Ini dia hasil prakaryaku.. berhubung dari jauh jadi ngga begitu kelihatan bagian yang mbleber..

mau bikin hidung kita lebih mancung atau bulu mata lebih lentik? bisa banget! :D
Selesai dengan workshop dadakan ini, kembali ke misi awal dong untuk mencari stand KaLu di Pasar Indonesia. Eiiitss,,, sebelumnya musti isi perut dulu karena sudah memasuki jam makan siang. Tak perlu jauh-jauh, di dalam gedung sudah disediakan aneka masakan nusantara, mulai nasi goreng, sate ayam ponorogo, rujak cingur, rujak manis, gudeg, pempek dan masih banyak lainnya. Menggiurkan bukan? Di antara sekian banyak, ibu mertua memilih nasi goreng yang penyajiannya lebih cepat dan tempatnya yang paling terjangkau, mengingat antrean panjang dimana-mana. Rasanya? Menurutku so-so. Sebenarnya kalau mau lebih murah bisa mencari di luar gedung seperti yang dilakukan suamiku, hmm ya berhubung perut ini sudah protes minta diisi terpaksa memilih yang dekat.
Akhirnya kami sampai juga di Pasar Indonesia, dari segi tempat dan layout lebih terlihat berkelas dibandingkan pameran Indocraft. Barang yang dijual pun lebih beragam. Selain bermacam-macam kain khas Indonesia seperti batik, tenun, dan songket, beberapa juga menjual baju yang sudah jadi, tas etnik, kerajinan, aksesoris, fashion items berbahan kulit asli, pun jajanan/snack khas Indonesia dari beberapa daerah. Sambil menunggu mertua yang tertahan di satu tenant karena terjadi tawar-menawar yang cukup alot, aku jalan-jalan sendiri tapi tidak terlalu jauh, melihat-lihat barang yang akhirnya hanya membuatku lapar mata *sigh.. ada kalung-kalung etnik, lace dress dengan warna pastel, bolero dari songket yang keren abis, cropped jacket berbahan batik. Judulnya: diriku tergoda! Karena basically aku emang betah di tempat yang menjual barang-barang etnik sih. Tapi mengingat belum ada anggaran untuk beli barang-barang ini ya sudah ditahan dulu mupengnya, cuma bisa berharap ada event lagi seperti ini pas aku ada rejeki lebih hehe..
Akhirnya ketemu juga stand KaLu yang kami cari, dan cukup kaget karena barang di rak untuk display sudah tinggal sedikit, pengunjung yang sedang memilih dan menawar di situ pun masih betah berlama-lama. Aku langsung mengincar syal-syal yang diletakkan begitu saja di bawah, terutama warna-warna netral, ibu mertua juga memilih beberapa syal dan satu kain lurik motif jarum kecer berwarna kuning. Ini dia hasil perburuanku, yang dua di kiri di Pasar Indonesia, paling kanan itu yang pertama kali kubeli.

maaf kalau kualitas gambar kurang bagus, dari kamera untuk whatsapp sih :P
Sebenarnya masih kurang puas dengan menipisnya stok, walaupun penjualnya menjanjikan akan mendatangkan barang lagi dari Jogja untuk pameran keesokan harinya, yah untuk ukuran Jakarta yang kemana-mana jadi jauh karena macet, bikin males deh ke situ lagi.
Setelah berkeliling dari siang sampai sore di JCC Senayan hari itu, aku jadi berkesimpulan bahwa kain buatan Indonesia itu cantik-cantik. Memang harganya cukup mahal, tapi kurasa itu setara dengan bahan dan proses pembuatan yang rumit. Agak heran aja dengan orang Indonesia yang gampang banget belanja baju di luar negeri, nanti kalau produk negaranya diklaim baru protes habis-habisan, menuduh negara tersebut maling dan sebagainya. Kalau bukan kita sendiri yang melindungi hasil karya negara kita, siapa lagi?
hasil perburuan lain: bros batu alam kalimantan yang dipasang di atas syal KaLu, cantik ya? :)

9.06.2012

Cafelicious


Rasanya kurang “afdhol”kalau aku menamai blog ini kohilover sementara aku belum membahas sesuatu pun yang berkaitan dengan kopi :P kecuali iseng-iseng modifikasi cangkir kopi dengan puisi  yang jadinya seperti di postingan sebelumnya berjudul Modifying Two Cups . Aku jadi tergelitik nulis ini juga setelah baca tulisan teman lama tentang Segelas Susu Soda .
Sejak kecil aku hobi icip-icip kopi punya papa, tapi baru bener-bener berasa “ketagihan” itu waktu kuliah. Di rumah, aku bukan satu-satunya penyuka kopi, papa-mama dan kakakku juga suka kopi. Terutama yang mereka sukai adalah kopi tubruk, kalau aku sih tergantung suasana hati dan kebutuhan aja, kadang diselingi kopi instan juga kok hehe… eh punya pasangan juga suka kopi, klop dah!
Sepertinya “ritual” ngopi saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, terbukti dengan menjamurnya coffee shop di kota besar maupun kota yang sedang berkembang, mulai dari gerai terkenal yang menguras isi dompet sampai yang terjangkau uang saku mahasiswa :D
Nah, ini ceritanya aku bikin review tentang beberapa tempat yang pernah aku kunjungi di Jogja selama 3 tahun terakhir, bukan promosi lho yaa.. jadi opini pribadi dan info yang sekiranya bermanfaat buat yang pengen nongkrong sambil ngopi. Yuk disimak satu per satu.

Rumah Coklat (Coklat Café)
Aku pertama kali menjajal ngopi ala café di jogja ya di sini, terletak di jalan Teuku Cik Di Tiro. Tempatnya nyaman dan bernuansa rumahan.  Sesuai namanya, menu utama di sini adalah minuman cokelat yang disajikan baik panas maupun dingin. Selain itu juga bermacam-macam latte, snack, sliced cake, es krim  yang bisa dinikmati mulai pukul 12 siang. Pilihan tempat ada indoor dan outdoor, dan untuk indoor kita bisa memilih duduk di kursi atau sofa. Oh ya, koneksi wi-fi di sini termasuk kenceng juga lho, jadi rugi kalau jauh-jauh ke sini ga bawa gadget, hehe..semakin malam tempat ini akan semakin ramai, jadi kalau mau suasananya agak tenang ya datanglah siang atau sore hari.


es krim dengan rasa mocca yang nendang banget

semua serba cokelat kecuali yang tengah itu cafe latte

yum!

fusili atau sosis? silakan dipilih ;p

Kofe Noir
Karena tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, jadi aku emang ditakdirkan untuk ke coffee shop yang ada di jalan Kaliurang km.7 ini, hehe… lebay yak? :P
Awalnya cuma penasaran tiap pergi-pulang PKP ke pusat rehabilitasi Yakkum melewati tempat ini, dari papan namanya terkesan elegan gitu. Setelah masuk dan mencoba beberapa menunya, aku dan pasangan jadi memfavoritkan tempat ini, dan kami sepakat bahwa tempat ini dibuat/dibangun dengan passion. Kami selalu memilih tempat di lantai 2. Walaupun letaknya di pinggir jalan, tapi ketika masuk seperti tenang dan jauh dari keramaian, sambil ngopi bisa baca-baca majalah dan main game yang disediakan, atau menikmati lagu-lagu yang ngetrend tahun 1990an, juga browsing internet dengan koneksi wi-fi yang lumayan kenceng. Harganya memang agak mahal, tapi sesuai kok sama kualitas yang didapatkan. Menu yang jadi andalan di sini sih homemade apple pie, tapi aku suka banget sama spaghetti-nya.
Oh ya, sejak tahun ini (aku lupa tepatnya bulan apa) ada Mooikitchen yang bergabung di lantai 1, menu andalannya klappertaart dan cupcake. Klappertaart-nya emang juara! Untuk info lebih lanjut cek saja akun twitternya Kofe Noir dan Mooikitchen, kadang ada promo menarik lho.


chocolate pancake, mengenyangkan buatku (kalau ga salah 3 atau 4 lapis)

coffee blended-nya enaaak

homemade apple pie

three musketeers

suasana di lantai 2 sore hari

Momento
Hmm… aku hanya dua kali datang ke tempat ini. Pertama dengan teman, yang kedua dengan pasangan. Dari segi tempat sebenarnya cukup nyaman, tapi sayangnya antara perokok dan non perokok tidak dipisah sehingga cukup mengganggu bagi yang tidak suka atau alergi dengan asap rokok. Dan entah kenapa dua kali kesana kok ga bisa menikmati menunya dengan khusyuk ya :D koneksi internetnya juga biasa aja. Bagi yang suka dan boleh minum alkohol, di sini tersedia Irish coffee.

Flo Coffee
Sama dengan Momento, aku datang ke Flo Coffee dua kali. Pertama waktu dia buka mulai sore, banyak majalah yang bisa dibaca-baca di situ. Yang kedua waktu tempatnya sudah direnovasi dan buka mulai siang, karena bareng banyak teman dan buru-buru jadi ga sempat menikmati suasananya. Minuman dan snack yang ditawarkan enak dan variatif, sayang aku kurang suka dengan tempatnya. Dan bagi anda yang kelaparan mungkin akan kurang puas karena ga ada makanan berat. 
Update: aku baru tau kalo Flo Coffee sudah berganti nama menjadi Lagani Coffee, mungkin sejak direnovasi itu kali ya, buka mulai jam 9 pagi sampai 11 malam. For more info, follow its account twitter here.


Djendelo Koffie
Terletak di atas toko buku Togamas jalan Affandi, coffee shop ini punya daya tariknya sendiri, yaitu nama menu minumannya menggunakan nama di dunia pewayangan. Bisa banget lho habis belanja buku kita menikmati minuman di sini sambil baca buku atau menikmati pemandangan orang lalu lalang beli buku, tapi baru buka sore hari yaitu pukul 16.30. Kalau kecepatan koneksi internetnya standar sih. Dan sayangnya menu camilan yang disediakan kurang variatif, hanya ada gorengan dan roti. Cukup oke lah kalau ingin menikmati minuman tanpa rasa lapar yang berarti.



Kopi Oey (dahulu: Kopi Tiam Oey)
Aku tau tempat ini buka di Jogja awalnya dari Twitter, secara dia sudah punya nama gitu lho. Salah seorang teman pernah mencari tempat ini tapi ga ketemu, hihihi… ya udah akhirnya aku liat di google map aja, ternyata tempatnya sejalan dengan Indoguna dan Takigawa. Pertama dan baru sekali ke tempat ini cukup pagi, waktunya sarapan gitu deh. Jadi aku dan pasangan memilih roti bakar corned beef dan minumannya dilmah tea sama apa ya….lupa!
Selain nama menu yang unik-unik (coba cek menu makanan dan minuman), tempatnya juga eksotik, serasa dibawa ke jaman dan tempat yang berbeda ketika masuk ke ruangan yang di dalam (karena juga ada yang outdoor).
Sayang aku ga ambil gambar makanan dan minuman yang aku pesan. Tapi info dan penampakannya bisa dicek di sini.

Update: Perubahan nama dari Kopi Tiam Oey menjadi Kopi Oey dikarenakan adanya satu pihak yang mengklaim "Kopitiam" sebagai merk, berita selengkapnya bisa disimak di sini

By the way, aku belum menemukan (atau mengunjungi?) coffee shop yang menyediakan single origin, sementara di Malang bertebaran dimana-mana. Emang aku belum nyobain ngopi di angkringan karena denger-denger sih kopinya udah dicampur macem-macem. Terlepas bener atau ga, kalau pengen ngopi yang agak murah sih aku beli atau nitip kopi di Serambi Botani produk IPB dan bikin sendiri di rumah. Kopinya asli kopi Indonesia, suka banget sama aromanya kopi Mandailing dan kopi Bali Kintamani, harganya juga terjangkau dibandingkan yang beredar di supermarket. Barangkali ada yang mau ngasih kado frenchpress? Diterima dengan senang hati lho, hehehehehe….. 
Update (lagi): akhirnya aku nemu juga coffee shop yang menjual single origin, yaitu Warung Kopi Sruput yang ada di Dixie Square Gejayan. aku belum nyobain siiih, waktu ke sana sudah terlanjur pesan Tiramisu hehehe... Mari ngopi!

2.29.2012

Jalur 7 dan Pencopet

Kalau di tulisan yang sebelumnya saya menceritakan pengalaman saat naik bus Trans Jogja, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saat naik bus Puskopkar jalur 7 yang lebih sering saya tumpangi daripada jalur lainnya. Bus ini tentunya berbeda dengan bus trans, tanpa AC dan tidak memakai shelter.
Ada beberapa pengalaman tak terlupakan ketika menumpangi bus ini. Sewaktu masih kuliah setiap hari pada semester 1, saya pernah turun bus dan sampai di kelas dalam keadaan ritsleting depan tas terbuka, tempat pensil saya dan segebok tisu raib! Berbekal pengalaman tersebut, setiap naik bus saya jadi lebih berhati-hati dan selalu menaruh ransel di depan dan waspada. Kenapa kejadian itu tidak dilaporkan, ya karena pihak berwajib “memaklumi” kalau bus tersebut memang sering dijadikan tempat beraksi oleh pencopet -_____-
Pengalaman berikutnya masih berkaitan dengan pencopet di bus jalur 7, kali ini saya jadi saksi mata. Sejak awal saya sudah menyadari, ada penumpang yang kelihatannya naik tanpa tujuan dan menyuruh salah seorang penumpang untuk pindah tempat duduk. Saya sudah merasakan hal ini sebagai sesuatu yang tidak wajar. Scene berikutnya saya lihat penumpang tanpa tujuan itu mengincar ransel penumpang lain yang duduk di depannya. Posisi saya serba salah. Ingin rasanya memberikan note ke calon korban tapi takut pencopetnya membawa senjata tajam dan mengancam saya. Lalu karena calon korban turun, pencopet ini pindah tempat duduk di belakang saya… saya pun jadi deg-degan dan memegang erat ransel di depan saya, memastikan ransel tersebut tidak akan tersentuh dari belakang saya. Selanjutnya dia pindah tempat duduk lagi mengincar 2 penumpang perempuan yang asik mengobrol, setelah mendapatkan “mangsa” ia pun langsung turun.
Berdasarkan pengalaman yang pertama, saya hampir saja menjadi korban, walaupun pada kenyataannya memang ada yang raib, saya masih bersyukur barang yang diambil bukan barang berharga. Namun dua teman kuliah saya pernah benar-benar menjadi korban di dalam bus jalur yang sama, teman yang satu kehilangan telepon selular dan yang lain kehilangan dompet.
Apakah supir bus menyadari hal ini? Jawabannya: Iya. Mereka tahu dan bisa membedakan mana pencopet dan mana penumpang sesungguhnya. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa sehingga kesannya seperti “membutakan” diri. Mereka hanya bisa mengingatkan penumpang tetapi tidak bisa melarang pencopet yang ikut menumpang tanpa bayar. Dan parahnya lagi, pencopet sudah dianggap sebagai suatu pekerjaan -_____-