Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

3.23.2014

Green is Easy

"BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA"


Siapa yang ga pernah menjumpai tulisan tersebut?
Kalau membaca sih aku yakin anak TK jaman sekarang pun bisa, tapi apakah semua orang benar-benar menerapkannya? Pada kenyataannya engga. Sama halnya orang yang merokok di tempat yang jelas-jelas terpampang tulisan DILARANG MEROKOK. Di socmed beberapa kali kubaca ada yang menemui orang membuang sampah dari jendela mobil mewahnya, dibuang di jalanan begitu saja. Jangankan di socmed ya, aku sendiri juga pernah menyaksikan penumpang mobil mewah yang membuang puntung rokok saat berhenti di traffic light, juga membuang sampah tisu di tikungan jalan protokol. Lalu perayaan tahun baru yang menyisakan banyak sampah di bundaran HI. Juga minimnya ketersediaan tempat sampah ketika ada kegiatan semacam “pasar senggol”. Kalau dilihat lagi, kasus yang pertama lebih mengarah pada perilaku penumpang mobil mewah yang kurang sesuai dengan atribut yang ia bawa, sedangkan kasus yang kedua melibatkan kurangnya sarana sekaligus kesadaran masyarakat untuk menahan diri membuang sampah begitu saja di lokasi kegiatan. Kalau soal sarana sih, tinggal nambah tempat sampah aja udah selesai masalah. Paling-paling kepentoknya masalah dana *teuteup*. Tapi kalau soal mental dan kelakuan, pengetahuan yang diperoleh dari edukasi aja ga cukup, mesti ada kesadaran diri untuk melakukannya. Sekalipun efek yang ditimbulkan dari perilaku tidak bertanggung jawab ini sudah langsung dirasakan (misalnya banjir yang melanda Jakarta), tidak serta merta bisa menghilangkan kebiasaan ini.
Oh ya, aku jadi teringat pernah membuat proposal sebagai tugas kuliah untuk menerapkan teori psikologi dalam lingkungan sehari-hari. Tema yang kupilih waktu itu tentang pengelolaan sampah yang ditujukan kepada anak SD supaya mereka sejak dini dapat belajar dari mengamati untuk mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Waktu bikin proposal itu sih dalam bayanganku dengan belajar sejak dini bisa membentuk perilaku mereka hingga dewasa. Tetapi melihat lagi kenyataan, dan berandai-andai ortu dari anak SD yg sudah belajar memisahkan sampah kemudian ortunya seperti penumpang mobil mewah di atas yang suka buang tisu dan punting rokok sembarangan, ah… sepertinya program itu akan sia-sia, mengingat anak kecil belajar dengan mengamati lingkungannya. Jadi kesimpulanku, hal semacam ini kembali ke kesadaran diri individunya.
Berikut ini aku share beberapa aksi hijau yang SUDAH kulakukan. Kalau yang SEBAIKNYA dilakukan kurasa sudah banyak dibahas di media manapun ya, tapi sekedar tahu saja tidak cukup, perlu tindakan nyata seperti di bawah ini:
  1. Bawa kantong belanjaan sendiri waktu ke minimarket/supermarket/hypermarket. Opsi lainnya kalau belanja bulanan yang biasanya segambreng itu, minta kasir untuk mengemasnya di kardus bekas air mineral atau mie instan, nantinya kardus ini bisa dimanfaatkan kembali di rumah, bisa juga dibawa ketika belanja bulanan berikutnya. Kalau boleh sebut merk, Carrefour Ambarukmo plasa sempat memberlakukan aturan bahwa mereka ga akan memberikan kantung plastik secara cuma-cuma, jadi konsumen punya opsi membawa kantung belanja sendiri atau membeli yang mereka sediakan di dekat kasir. Sayangnya peraturan ini ga berlangsung lama, mungkin terlalu ekstrim untuk masyarakat Indonesia yang “otomatis” mendapat kantung plastik secara gratis setelah belanja hahaha.. mungkin masyarakatnya juga yang belum siap dengan perubahan tersebut. Padahal bisa jadi contoh yang baik untuk swalayan lainnya kan… swalayan lain seperti Superindo memberikan semacam reward bagi konsumen yang membawa kantung belanja sendiri berupa stamp yang bila dikumpulkan bisa mendapat keuntungan tertentu, menurutku usaha ini cukup bagus kalau terus diberlakukan ga hanya saat ada promo. Pengalamanku di minimarket, kalau aku bilang ga usah pakai kantung plastik pasti responnya agak cengok trus ngeliatin aku dengan pandangan aneh, eyyy males banget ya.. beda ketika ke toko Gunung Agung Jakarta, aku nolak kantung plastik langsung diberi senyuman dan ucapan terima kasih. Juga waktu ke TBS Senayan City aku nolak paper bag karena lagi bawa tote bag, kasirnya keliatan happy banget sambil ngucapin terimakasih. Nah kalau feedback yang didapat positif seperti dua kasus terakhir ini pastinya konsumen mendapat penguatan untuk melakukannya lagi.
    kemana-mana sekarang bawa tote bag ini
  2. Memisahkan sampah sachet, digunting rapi terlebih dahulu (contoh: sachet bungkus kopi, deterjen, pewangi, pelicIn pakaian, bungkus mie instan). Dengan melakukan pemisahan yang rapi ini kita bisa membantu pengrajin barang daur ulang lho. Sebenarnya akan jauh lebih baik lagi kalau kita mengurangi konsumsi barang yang dikemas dalam sachet. Misalnya lebih memilih kopi tubruk dibanding kopi sachet, lebih memilih deterjen kemasan besar daripada sachet kecil. Bahkan dari yang pernah kubaca, sebaiknya kita membeli sabun cair atau minyak goreng dalam kemasan botol dibandingkan kemasan refill, karena botol ini nantinya akan dicacah lalu didaur ulang. Errrr tapi ada hal yang jadi “tantangan” untuk melakukan pemisahan sampah ini, yaitu pemulung. Udah capek-capek kita memisahkan sampah, eh sama pemulungnya diacak-acak, grrrr… kalau udah gini kayanya mending mengamankan sampah yang kita pisahkan sampai tukang angkut sampah datang.
    kapan di Indonesia begini? (pic from God's Gift-14Days)
    sachet kosong dikumpulin di plastik tersendiri
  3. Bawa botol minum sendiri. Sekarang banyak pilihan tumbler warna warni atau berbentuk lucu sebagai tempat minum, yang terpenting selalu lihat labelnya apakah tumbler tersebut memang aman untuk makanan dan minuman, bisa juga pilih yang BPA-free. Jika terpaksa beli air minum dalam kemasan, begitu habis langsung saja diremas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemasan tersebut dipakai ulang, karena pada dasarnya air minum dalam kemasan dirancang hanya untuk sekali pakai.
    crush it properly
  4. Kalau suka online shopping, pilih olshop dengan packaging yang ramah lingkungan seperti paper bag atau paper box dari bahan daur ulang. Biasanya olshop yang menggunakan paper bag ini harganya lebih mahal sih, tapi kalau untuk menyelamatkan lingkungan kurasa ga masalah.
  5. Beli bubur ayam bawa rantang/wadah sendiri, karena berdasarkan pengamatanku selama ini penjual bubur ayam memakai styrofoam sebagai wadah untuk take away. Padahal styrofoam tidak akan pernah bisa terurai, ditambah lagi bahan tersebut dapat mengeluarkan racun yang berbahaya bagi tubuh kita ketika terkena makanan panas. Aku memaklumi mereka memilih Styrofoam untuk menekan biaya, makanya harus kita yang sadar diri akan bahayanya bagi kesehatan dan lingkungan. 
mari saling mengingatkan (pic from Let's Eat)

(pic from Let's Eat)

Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk pengelolaan sampah ini, berhubung aku sendiri masih belajar jadi ya pelan-pelan menjadikannya sebagai kebiasaan. Mau share aksi hijau yang sudah kamu lakukan? Boleh banget komen di bawah.


5.29.2013

Twitshare: Pameran Arsitektur dalam 140 karakter

Beberapa hari lalu aku berbagi cerita melalui twitter tentang kunjunganku yang tidak sengaja ke benteng Vredeburg. Sebenarnya hanya mengantar saudara sepupu yang ingin jalan-jalan ke museumnya, ternyata di pelatarannya juga ada acara pameran yang diselenggarakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM, yaitu Wiswakharman Expo 2013. Selain pameran juga ada food and fashion bazaar dan live music. Tentunya karena tidak sengaja jadi tidak didukung oleh peralatan yang memadai (baca: kamera yang layak, maklum kamera hp kualitasnya pas-pasan, bukan gadget mania :D). Tak ada kamera bukan menjadi halangan untuk berbagi, karena bagaimanapun event semacam ini sangat menarik buatku (note: khusus share hal yang serius gini pake kata “saya” hehehe…)

1.       Hal menarik pertama adalah “ruang” pameran sederhana bertajuk Ruang Empati, bikin pengunjung jadi penasaran
2.      Ruang empati ini berisi beberapa rancangan yg selain berbentuk unik, juga sekaligus dapat membantu mengatasi permasalahan sosial di jogja
3.      Sebagian besar rancangan dinamai dg kalimat dlm bhs Jawa yg dibuat akronim, salah satu yg nancep di otak: KOSAPIR, kowe ra sah mlipir
4.      KOSAPIR ini sbnrnya ditujukan utk pejalan kaki yg haknya “dijajah” oleh PKL yg berjualan di sepanjang trotoar sehingga pejalan kaki hrs mlipir
5.      Inti dr KOSAPIR ini membuatkan tempat tersendiri bagi PKL sehingga pejalan kaki memperoleh haknya dgn berjalan nyaman di trotoar
6.      Selain rancangan2 yg memiliki empati thd permasalahan sosial, juga ada ppameran foto lho, dan saya ikut voting :D
7.      Selain KOSAPIR juga ada konsep rancangan yg bagi saya physically menarik sekaligus dapet juga empatinya, ga salah dinamai Ruang Empati
8.      Kalo ga salah namanya Gonjoru (panggon kerjo lan turu), tempat kecil yg bisa untuk berdagang tanpa mengesampingkan sisi ergonomis utk tdr
9.      Selain itu juga ada rancangan shelter untuk becak yg bs utk istirahat mengingat banyak penarik becak yg msh tidur sembarangan di jalan
10.  Yg jelas saya suka dr pameran itu sih krn bener2 memperjuangkan hak2 pedestrian :D mengingat sekarang pengendara motor jg lwt trotoar

Nah, itu dia poin-poin yang sudah aku twit dan kutulis ulang di sini. Banyak singkatan? Namanya juga twitter yang dibatasi 140 karakter :) Sebetulnya masih banyak hal menarik yang belum tertuang, tapi keburu udah lupa *alesan*
Mudah-mudahan sih konsep ruang empati untuk Jogjakarta tidak hanya berhenti berupa rancangan semata, tapi bisa direalisasikan demi kota Jogja yang lebih nyaman.


9.19.2012

Kekkon Journal Part 4: Antara Mitos dan Fakta


Masih segar dalam ingatan, menjelang hari H pernikahan kami dikelilingi oleh sejumlah “nasihat” yang hmm… bikin serba salah. Kalau diturutin kok ya aneh, kalau ga diturutin nanti dipersalahkan misalnya terjadi apa-apa.
Pertama, soal hari baik. Dari jaman kakakku menikah tahun 2006 yang lalu, kedua orangtua dan kakakku tidak “menganut” kepercayaan tentang hari baik. Mereka langsung menentukan tanggal untuk akad nikah, resepsi, dan ngunduh mantu tanpa ba-bi-bu, pokoknya tanggal sekian. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Ternyata pada saat aku akan menikah, masih ada saudara yang menawarkan diri untuk mencarikan hari baik bagi kami, padahal mereka tahu sendiri keluarga intiku berpedoman bahwa semua hari adalah baik, karena Allah SWT yang menciptakannya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka kita?
Kedua soal pingitan. Tradisi pingitan ini entah dari mana asal muasalnya, yang aku tahu beberapa orang berbeda-beda pendapatnya mengenai berapa hari calon pengantin dipingit. Ada yang 40 hari, 30 hari, bahkan seminggu sebelum hari H. Setelah sharing dengan salah satu teman dekat, ternyata dia sampai H-1 masih sibuk mengurus tetek bengek bersama calon suaminya, dan toh ga kenapa-kenapa juga, acara mereka tetap berjalan dengan lancar. Karena aku pun lebih banyak mengurus ini-itu sendirian, jadi ketika acara di rumah dimulai Kamis, pada hari Senin aku masih fitting baju untuk resepsi hari Sabtunya. Sempat ngeri juga kalau denger cerita ada calon pengantin yang pergi-pergi menjelang hari H terus mengalami kecelakaan :’( yah, intinya banyak-banyak berdoa dan selalu berhati-hati, menjaga diri.
Ketiga berhubungan dengan cuaca. Seminggu sebelum hari H pernikahanku memang cuacanya ga bisa ditebak, kadang paginya cerah lalu siang tiba-tiba mendung, bahkan sempat hujan. Lalu ada orang yang menyarankan supaya nanti ketika aku menjalani rentetan acara tidak usah mandi dan keramas supaya ga hujan. Nah, apa hubungannya coba? Ga masuk akal kan? Lagipula, apa tahan tuh keringetan terus ga mandi, kasihan dong suamiku :D Mama juga pernah cerita kalau ada orang yang percaya bahwa cara untuk menghalau hujan ketika mengadakan hajat adalah dengan menaruh (maaf) celana dalam di atas tenda, ewwww....
Ujung-ujungnya, kami mengembalikan semuanya ke pencipta dan penguasa alam semesta yaitu Allah SWT. Mama menyarankan supaya kami sekeluarga membaca surat Al-Lahab setiap selesai sholat fardhu, dan berdoa memohon diberikan kelancaran. Bagaimanapun juga manusia tidak dapat melawan hukum alam. Kalau pada saat itu memang terjadi hujan, ya kita hanya bisa berdoa agar sementara dijauhkan dulu dari hujan.
Alhamdulillah, pelaksanaan semua acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar, aku bisa tetap mandi dan keramas seperti biasanya tanpa khawatir akan hujan, dan memang terbukti cuaca cerah terus menerus pada waktu itu.
Mungkin kamu pernah punya pengalaman dengan mitos seperti ini juga atau ada yang lain? Boleh di-share lho.

9.03.2012

Kekkon Journal Part 3


Hohoho… awalnya kukira hari-hari menjelang pernikahan ada waktu luang untuk menulis kekkon journal, ternyata malah mangkrak :P daripada ga dilanjutin kok kesannya nanggung, walaupun agak telat yah ga apa-apa kan aku tulis pelan-pelan…
Seperti yang kujanjikan pada tulisan sebelumnya, kali ini  aku akan menulis hal-hal nonteknis yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dan dipikirkan setelah hari H terlewati. Bekal ini aku dapatkan ketika menjalani praktik kerja profesi selama 2 bulan di salah satu Puskesmas di Sleman, Yogyakarta. Setiap calon pengantin yang sudah mendaftar ke KUA dihimbau untuk datang ke Puskesmas melakukan pemeriksaan kesehatan, mendapatkan konseling gizi, dan konsultasi psikologi dengan harga paket yang terjangkau.
Nah, poin-poin apa saja yang disoroti dalam aspek psikologis? Hal ini membuat beberapa klien bertanya-tanya dengan keingintahuan mereka yang sangat tinggi, terutama untuk klien yang mengenyam pendidikan lebih tinggi. Selain pertanyaan standar seperti berapa lama hubungan yang dijalin oleh calon pengantin sebelum memutuskan untuk menikah, lalu hal apa yang membuat mereka merasa sudah waktunya untuk menikah, juga ada semacam pedoman pertanyaan seperti yang akan kujabarkan di bawah ini:

Pernikahan seperti apa yang ingin diwujudkan?
Menanggapi pertanyaan seperti ini, sebagian besar menjawab “sakinah, mawaddah, warrohmah”. Kalau yang agak sedikit “kreatif” biasanya akan menjawab keluarga yang bahagia, rukun, saling mencintai, dst. Bahkan ada yang tidak mampu menjelaskan pernikahan seperti apa yang dia inginkan. Menurutku hal ini kembali pada masing-masing individu, dia menikah atas dasar pertimbangan dan motivasi apa. Namun  karena pernikahan itu menyatukan dua individu, dua raga, dua pemikiran, maka perlu ada komunikasi antar pasangan mengenai visi dan misi pernikahan. Kalau sejalan tidak akan menjadi masalah, tetapi kalau berbeda? Berarti perlu dikomunikasikan kembali supaya dapat menjembatani perbedaan tersebut.

Setelah menikah akan langsung memiliki anak atau menunda terlebih dahulu?
Idealnya memang setiap pasangan yang menikah juga akan merencanakan kehamilan, namun beberapa pasangan memiliki alasan tertentu untuk menundanya. Misalnya calon istri masih ingin lanjut bekerja dan menabung sebelum merencanakan kehamilannya. Ada juga pasangan yang tidak terlalu memikirkan hal ini, jadi kalau bisa cepat hamil ya diterima dengan senang hati, seandainya belum juga tidak jadi masalah. Mau memilih yang manapun itu adalah hak setiap pasangan, tetapi poin pentingnya di sini adalah komunikasi dengan pasangan, jangan sampai misalnya istri ingin menunda tetapi suami ingin segera memiliki momongan dan perbedaan tersebut malah menimbulkan perselisihan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalau keduanya ingin menunda, bisa memilih apakah dengan cara yang alami (sistem kalender) atau menggunakan alat kontrasepsi. Untuk pilihan kedua sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan ahlinya.

gambar diambil dari http://www.pharmacynews.com.au

Setelah menikah akan tinggal di rumah sendiri atau dengan orangtua/mertua?
Idealnya (lagi), pengantin baru setelah menikah memilih untuk memiliki rumah sendiri. Selain bisa mengelola rumah tangga seperti yang diinginkan, pasangan suami istri baru juga bisa belajar mandiri mengatasi setiap permasalahan rumah tangga.
Namun tak sedikit juga yang masih tinggal bersama orangtua/mertua dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Konsekuensinya pengantin baru akan menghadapi lebih banyak penyesuaian, tidak hanya penyesuaian dengan sifat-sifat pasangan yang belum muncul selama proses mengenal sebelum menikah, tetapi juga dengan sifat dan kebiasaan orangtua/mertua. Konsekuensi yang lebih jauh lagi mengenai urusan tempat tinggal ini akan terasa ketika pasangan tersebut memiliki anak, yaitu adanya intervensi dari pihak lain dalam mengasuh dan merawat anak. Apapun kondisinya tetap disyukuri aja ya, karena pasti masing-masing ada hikmahnya, jadi tak perlu berkecil hati.

gambar diambil dari  http://www.photo-dictionary.com/phrase/4603/family-house.html#b 

Setelah menikah bagaimana dan siapa yang mengelola keuangan rumah tangga?
Disadari atau tidak, soal keuangan termasuk isu yang sensitif.  Bisa saja awalnya jadi masalah yang sepele namun suatu saat jadi masalah besar yang memicu perceraian. Apakah istri juga bekerja atau tidak, tetap harus ada kesepakatan yang jelas apakah istri menerima dan memegang seluruh nafkah yang diberikan suami, lalu uang tersebut akan dialokasikan untuk apa saja, berapa jumlah yang disisihkan untuk ditabung, dan seterusnya.

gambar diambil dari  http://infocus.emc.com/dave_bagatelle/financial-planning-static-vs-probabilistic/ 

Itulah “sekelumit” aspek pernikahan yang aku rangkum dalam beberapa poin dari pengalamanku memberikan konseling caten, semoga bisa membantu pasangan-pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan.


5.02.2012

Kekkon Journal Part 2


"Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling sederhana" (Sabda Nabi: HR. Abu Dawud)

Pada tulisan sebelumnya aku sudah memberikan pengantar mengenai persiapan pernikahan, kali ini aku akan share tentang beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk hari H pernikahan secara umum dan yang menurutku paling krusial. Selain itu aku juga berencana membuat tulisan tersendiri mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dipikirkan untuk menjalani kehidupan setelah hari H, karena justru itulah yang penting. Hari H pernikahan bukan merupakan tujuan akhir yang diimpikan setiap pasangan lho, melainkan awal untuk menjalani kehidupan yang berbeda dibanding sebelumnya.

Oke, karena saudaraku itu bejibun jadi keluarga lebih memilih untuk menangani sendiri tanpa bantuan EO atau WO. Makanya kalau pakai jasa WO mungkin akan berbeda, mungkin lho yaa hehehe… Nah, beberapa hal tersebut aku jabarkan di bawah ini:

Tempat
Pastikan terlebih dahulu acaranya di dalam ruangan atau di luar seperti pesta kebun atau pool side. Kalaupun di dalam ruangan, masih ada beberapa pilihan lagi misalnya di gedung, rumah sendiri, masjid, hotel atau restoran. Perlu diingat juga, pilihan-pilihan tersebut tentunya berkaitan erat dengan anggaran yang disediakan. Intinya, begitu tanggal pernikahan sudah ditetapkan, pertama kali yang perlu disurvey adalah tempat pelaksanaan resepsi. Apalagi kalau musimnya kondangan, siapa cepat dia dapat tempat :P  Kalau tempatnya strategis dan populer, sebaiknya memesan 6 bulan sampai setahun sebelum hari H. Sepengetahuanku, kalau di masjid biasanya berbarengan dengan akad nikah, dan ini akan berpengaruh pada biaya yang dikeluarkan. Dari pengalaman teman, biaya akad nikah yang diselenggarakan di rumah lebih murah dibanding kalau di masjid.

Katering
Setelah urusan tempat beres, beralih ke katering. Sekarang ini sudah banyak pilihan katering dengan berbagai menu yang menarik dan harga yang beragam sesuai anggaran penyelenggara hajat. Ada menu tradisional, internasional, dan timur tengah. Syukur-syukur kalau jasa kateringnya menawarkan test food, alangkah lebih baik. Bisa memantapkan hati akan pilihan kita terhadap catering tersebut kan. Biasanya pengantin akan ditanya tentang nuansa warna yang diinginkan waktu pesta berlangsung, karena hal ini akan disesuaikan dengan dekorasi makanannya. Aku sendiri berencana untuk menggunakan semacam joglo punya restoran, jadi semua makanan dari restoran tersebut, sedangkan joglonya bebas biaya sewa. Lumayan menghemat hehe..

Perias
Perias ini menurutku sih soal selera aja ya, mau yang tradisional atau modern, mau perias wanita atau perias pria. Berdasarkan pengamatan, perias pria punya sense yang unik juga kok, ga kalah bagus sama perias wanita. Akan lebih baik misalnya perias mau memberikan test make-up, kalau ada yang kurang cocok bisa ngasih saran perbaikan, atau mungkin ada waktu untuk ganti perias lainnya. Yang berkaitan erat dengan perias ini adalah baju pengantin. Buat muslimah, sekarang juga banyak disain baju pengantin muslimah modern yang bagus dan tetep syar’i, tinggal pilih aja. Ga bisa dijadikan alasan untuk membuka aurat sewaktu hari H pernikahan kan? Untuk menghemat energi, biasanya perias sudah punya “gandengan” MC, dekorasi, dan dokumentasi. Memang ga semua, tapi ga salah juga kalau ditanyakan ke perias yang bersangkutan.

Administrasi
Urusan surat-surat sama pentingnya dengan konsumsi dan tempat. Kalau calon pasangan berada dalam satu kota sih masih gampang koordinasinya. Tapi kalau beda kota seperti aku dan pasangan ya agak ribet juga menyesuaikan waktu, pinter-pinternya komunikasi dan memanfaatkan waktu yang ada saja. Apalagi ada aturan di daerahku supaya pas foto yang akan dipasang di buku nikah itu harus dibuat berdampingan dengan calon suami/istri, dicetak dengan ukuran 3x6. Aturan baru ini diberlakukan untuk menghindari pemalsuan foto calon pasangan. Yah, biar urusan surat-surat ini bisa lebih cepat, siapkan saja “uang pelican”. Bukannya aku ngajarin ga bener ya, tapi itulah faktanya di sini :D

Undangan
Beruntung banget lho hidup di jaman sekarang, dengan makin canggihnya teknologi, ragam undangan juga banyak, tinggal pilih, tinggal nunjuk. Bahkan kalau mau pesan melalui jasa online shop tinggal klik. Mudah bukan? Kalau di luar negeri malah sederhana banget disain undangannya, umumnya hanya selembar tapi sudah mengandung informasi yang dibutuhkan tanpa banyak basa basi. Undangan yang kupesan menyediakan gratisan label stiker, plastik pembungkus undangan, dan label ucapan terima kasih untuk dipasang di souvenir.

Souvenir
Untuk souvenir terkadang bisa dipesan di tempat yang sama dengan tempat memesan undangan. Prinsipku, karena souvenir itu adalah cinderamata yang tujuannya sebagai kenang-kenangan, jadi harus punya nilai guna, ga cuma bisa dipajang atau akan habis ketika dipakai. Kalau anggaran terbatas bisa survey dulu untuk mendapatkan harga paling “miring”. Misal punya banyak waktu luang bisa juga kan bikin sendiri, anggep aja mengasah kreativitas kita. Yang perlu diingat, sediakan jumlah souvenir yang lebih banyak dari jumlah undangan, buat jaga-jaga terutama ada saudara yang meminta souvenir lebih dari satu. Pemesanan undangan dan souvenir bisa dilakukan 2 hingga 3 bulan sebelum hari H.

Dekorasi
Hmmm… kalau dekorasi ini biasanya berhubungan dengan nuansa warna baju pengantin, tempat resepsi, trus mau pakai gebyok atau bunga-bungaan penuh. Tak ketinggalan dekorasi untuk mobil pengantin dan kamar pengantin. Referensi pun bisa banyak didapatkan dari majalah khusus pernikahan maupun internet.

Dokumentasi
Dokumentasi ini meliputi foto dan video pernikahan. Beberapa tahun lalu waktu pernikahan kakakku, kalau ga salah 2006, videonya masih disimpan di CD, sekarang sudah dalam bentuk DVD hehe.. kualitas gambar dan suara jauh lebih baguuuss. Begitu juga dengan penyimpanan foto. dulu tiap foto dicetak lalu dipasang di album satu per satu, sekarang foto tidak perlu dicetak di kertas foto, tapi dicetak sudah dalam bentuk menyerupai buku katalog dengan bahan kertas sesuai keinginan.

Nah, sementara ini dulu yang bisa kutulis. Kalau ada yang mau menambahkan monggo.. kalau ada yang perlu tips-tips dan ide pernikahan lainnya, ada website yang aku suka, bisa dikunjungi di sini
Au revoir!


4.17.2012

Kekkon Journal Part 1: Intro...


Persiapan pernikahan kurang dari 6 bulan sebelum hari H bukan waktu yg relatif lama, apalagi untuk acara yang berlangsung pada bulan-bulan yang dianggap “baik”. Aku beri tanda kutip karena menurutku pribadi semua hari atau semua bulan itu baik. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa berurusan dengan orang-orang yang menganut bulan tertentu sebagai bulan baik tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tidak ada patokan umum mengenai seberapa ideal waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pernikahan, apalagi biasanya yang agak ribet itu dari pihak keluarga calon mempelai wanita. Ada yang setahun, bahkan ada yang 3 bulan, tergantung bagaimana pesta pernikahan yang diinginkan, apakah menggunakan prosesi adat yang lengkap, atau hanya mengambil acara yang esensial saja. Selain itu tergantung gimana kita menggunakan waktu yang ada supaya bisa cukup tanpa harus terburu-buru sampai ngrepotin banyak orang atau malah terlalu santai. 
Yang aku alami sendiri, rencana untuk menikah sudah ada sejak jauh-jauh hari, tetapi untuk merealisasikannya selama ini belum ada waktu yang pasti. Seiring dengan dinamika hubungan LDR yang aku jalani dengan pasangan, kami memutuskan untuk menikah pada pertengahan 2012 ini dengan banyaaak sekali pertimbangan, apalagi dengan kondisiku yang belum lulus dari program magister profesi yang telah kuambil hampir 3 tahun yang lalu (oops!). Mudah-mudahan hal ini merupakan keputusan terbaik yang kami ambil, mendapat ridho dari Allah SWT, diberi kemudahan dan kelancaran dalam proses persiapan, saat hari H dan yang terpenting setelah hari H.  Aamiin…
Kalau mendengar pengalaman teman-teman yang sudah melewati hari bersejarah mereka, pasti ada aja tantangannya, tak jarang tantangan-tantangan tersebut membuat stres. Tantangan itu ga cuma datang dari pihak keluarga inti, tapi juga dari orang-orang di sekitar yang terlalu usil. Pernah lho aku dan calon suami ketemu orang dan waktu dia tau kami akan menikah dia bertanya, “Sudah stress?” Nah! Ga salah kan kalau ada istilah prewedding syndrome :D
Dari yang aku alami selama mempersiapkan hari H ini, penyebab stress bukan hanya karena saking banyaknya hal yang diurusin, tetapi juga karena konflik yang muncul akibat perbedaan pendapat antara keinginan pribadi dengan keinginan orangtua. Kalau sudah begini mau ga mau harus sabar dan ngalah, secara orangtua sebagai penyelenggara dan yang punya duit tentunya *sigh
Yaah.. bagaimanapun juga, karena pernikahan adalah sesuatu hal yang membahagiakan, harusnya proses yang dilalui masih tetep bisa dibikin menyenangkan bukan?

4.09.2011

My Heart Draws a Dream*


Apa cita-citamu?
Satu pertanyaan sederhana ini selalu membuatku flashback ke masa lalu, saat masih duduk di bangku SD, masa dimana aku dicekoki bahwa cita-cita atau profesi yang mulia adalah dokter. Tapi sejak masa itu sebenernya segala kegiatanku ga mendukung ke arah tersebut :p Seingatku, aku suka banget baca majalah dan berlangganan tiap minggunya (Bobo), sering pentas menari tradisional dan jadi murid yang paling cepet hapal gerakan-gerakannya, nyanyi dan ikut lomba paduan suara, sesekali membacakan dongeng  untuk sepupuku waktu menginap di rumahnya, suka bantuin mama bikin kue sampai hapal resepnya di luar kepala dan hobi makan adonan mentah, tapi paling ga bisa yang namanya menggambar/melukis. Entah mengapa, momen yang justru selalu diingat mamaku adalah saat TK ada temen berbadan bongsor yang menangis, aku menghampirinya, memberikan sentuhan untuk menenangkannya dan memberikannya sebuah sapu tangan…

Salah satu hobi yang bertahan hingga sekarang adalah baca majalah, tentunya dengan beragam evolusi :p Kalau sudah berhadapan dengan majalah, suka lupa waktu dan ga bakal ngeh dengan sekitar. Saking cintanya sama majalah, majalah yang kupunya sejak TK-SD itu sebagian masih mulusss dengan isi halaman yang masih lengkap, hanya sedikit yang kugunting karena terpaksa untuk tugas kliping. Saking ekstrimnya cintaku sama majalah, aku paling sebel kalau majalah yang baru kubeli dibaca oleh orang lain dulu sebelum aku membacanya, bisa bete seharian, hahaha… saking banyaknya majalah yang dibaca, sampai bisa membedakan majalah mana yang orang-orang di belakanganya hi-educated dan smart :D
Pengalamanku dengan majalah ga berhenti sampai di situ. Waktu lulus kelas 6 SD puisiku dimuat di majalah Bobo, berujung dapet merchandise t-shirt dan pertama kalinya punya sahabat pena. Pada masa yang sama, aku sering baca majalah SMA punya kakakku dan membayangkan menjadi bagian darinya. Bangku SMA pun menungguku, ekskul jurnalistik pun jadi incaran untuk pertama kalinya, Bhawikarsu Press. Sempet pengen jadi jurnalis lho, hehehe… Hal yang paling berkesan adalah aku diminta mas T meliput pertandingan futsal di sekolah. Whaattt?? Aku bukan penggemar sepakbola/futsal gitu lho, trus gimana dong aku nulisnya?? Melihat tatapan mas T yang jahil, aku terima tantangan itu. Berkat usaha kerasku (terutama observasi, yang hingga sekarang jadi kelebihanku), tulisanku mendapat pujian dengan sedikit perbaikan. Fiuh.. leganya. Setahun berikutnya aku berhasil menduduki posisi Pemred dan Pinum. Walaupun majalahnya menuai caci maki di sekolah sendiri, hayoh aku tantangin ada yang bisa bikin lebih bagus ga? Toh di sekolah sebelah, majalah yang kupimpin dapet pujian :D

Gara-gara majalah pula, aku “banting setir” pengen kuliah Psikologi. Ortu ga langsung setuju sih, tapiii akhirnya dibolehin juga, alhamdulillah. Meskipun sudah setahun kuliah masih ada saudara yang bertanya, “ga kuliah kedokteran aja? Kan kamu pinter..” Helloo, emang kalau kuliah psikologi ga butuh pinter? Ckckck…
Memasuki bangku kuliah, semangat untuk menulis menguap entah kemana.. kemampuan menulisku jadi ga pernah terasah lagi. Dan seiring berjalannya waktu, aku pengen jadi psikolog dan punya tempat praktik sendiri, karena itu aku lanjut magister profesi deh..
Kehidupan yang kulalui hingga saat ini membuatku bersyukur, apalagi hasratku untuk menulis kembali muncul (terima kasih untuk seseorang di sana yang selalu memberi dorongan dan apresiasi). Terkait dengan hobi masa kecil, masih tersimpan impian punya tempat praktik yang ada semacam corner untuk klien mencicipi kue buatanku, hihihi… lucu kali ya, atau psikolog yang punya kerjaan sampingan jadi kontributor majalah, hmm… akan terwujud atau engga, biarkan alam semesta yang berbicara ^_^

*minjem judul lagunya Laruku :p

4.02.2011

Trans Jogja and Positive Parenting


Kalau ada yang bertanya-tanya apa hubungannya antara Trans Jogja dan Positive Parenting, saya jawab memang ga ada korelasinya, hehehe… ini adalah salah satu dari pengalaman saya waktu naik bus Trans Jogja dari shelter terminal Jombor sampai shelter Kentungan. Bukan perjalanan yang cukup panjang memang, tapi sangat berkesan meski beberapa bulan telah berlalu, tapi baru sekarang bisa tertuang dalam tulisan. Dan apa yang membuat pengalaman ini berkesan, adalah bagaimana seorang bapak melakukan pendidikan yang patut dicontoh oleh orangtua lainnya.
      Kronologisnya, seorang bapak masuk ke dalam bus dengan tergesa bersama anak laki-laki. Sekilas melihat si bapak, saya mbatin “Bapak iki kok sangar yo, rambut kribo, gondrong, dikuncir, brewokan pisan.” Tak lupa celana dan jaket berbahan denim yang melengkapi tampilan ala “preman” itu. Melihat anaknya, saya mbatin lagi “Iki moso’ anake?? Gak mirip blas!” karena si anak berambut lurus dan kurus, sedangkan bapaknya agak gemuk, selain tekstur rambut tadi.
      Begitu masuk bus, anak ini mengambil tempat duduk di sebelah saya, tapi dia langsung menaikkan sepatunya diatas jok, hmm… sesuatu yang wajar dilakukan anak seusianya saat naik kendaraan. Efuoria. Apa yang dikatakan bapaknya?
      “Kamu mau duduk disini?”
      “Iya.”
      “Oke, boleh.. tapi bapak minta maaf ya.. kamu kan pakai sepatu, kalau kakimu naik di sini nanti kotor..”
      “Berarti sepatunya dilepas?”
      “Hm.. kalau pakai sepatu sandal ga apa-apa, kan gampang dilepasnya. Tapi kamu kan pakai sepatu, jadi agak susah..”
      Anak itupun menurunkan kakinya. “Buseeeet, tampilan boleh sangar, tapi tutur katanya ga sesangar tampangnya, ga gengsi pula minta maaf ke anaknya” batin saya lagi.
      Rupanya, anak ini cukup “aktif”, ga seberapa lama setelah menurunkan kaki, dia berdiri tanpa pegangan padahal bus tersebut akan berbelok dan menyeberang.
“Bapak, aku ga jatuh lho..” sambil ketawa-ketawa.
“Yaa… mungkin bisa jatuh, mungkin juga engga.. tapi, kamu harus tau resikonya, kalau nanti jatuh ya ga boleh nangis.”
Dan anak itupun kembali memilih duduk setelah badan dia oleng ke kanan-kiri ga beraturan.
“Kita mau kemana, Pak?”
“Ke bandara, jemput ibu.”
Ponsel berdering, bapak itu mengangkat telpon…
Iseng-iseng saya bertanya nama anak itu, dijawab sekenanya tapi waktu ditanya sekolahnya ga digubris, ya sudah.. saya diam.
Setelah bapak itu menutup telpon, dia berbicara lagi ke anaknya, lagi-lagi dengan tutur kata yang halus.
“Dengerin bapak. Pesawatnya ibu nanti kan datangnya terlambat, jadi kita ke Mrican dulu ya, ke rumah si B biar nunggu di bandaranya ga terlalu lama. Kan kita ga boleh kalau ada di bandara terlalu lama.”
“Tapi jadi ke bandara?”
“Jadi, tapi kita mampir berhenti di Mrican dulu..”
Hening.
“Oiya..tadi ditanya sama kakak tuh, sudah dijawab belum?”
He noticed. Anaknya diem aja.
“Ya, tadi tanya namanya sudah dijawab, tapi tanya sekolahnya belum dijawab,” saya menimpali.
“Oh, namanya T**o, artinya pohon yang kuat. Sekolahnya TK A, tapi ga suka dianggap masih kecil jadi ngakunya TK B, hehehe…”
Bus lalu berhenti di depan traffic light.
“Bapak, kenapa ya, kalau lampunya merah kita berhenti, kalau lampunya emas siap-siap, tapi kalau hijau baru boleh jalan?”
“Wah, kalau itu sudah kesepakatan banyak orang, jadi jangan tanya bapak kenapa.”
Seluruh penumpang spontan tertawa. Padahal jawaban standar orangtua “ya sudah dari sananya” atau “kalau ga begitu ya ditangkap polisi”.
Ah..ga terasa sudah sampai shelter Kentungan ternyata, padahal masih ingin mendengar celoteh anak itu dan bagaimana bapak itu menanggapinya dengan bijak.

Berdasar pengalaman tersebut, menurut jadi orangtua memang gampang-gampang susah, apalagi jaman sekarang yang anak-anaknya makin cerdas dan kritis. Jadi orangtua ya harus pinter juga, harus bisa setara dan menjadi sahabat bagi anak tanpa harus kehilangan wibawa sebagai orangtua. Walaupun pada akhirnya ga ada orangtua yang sempurna, termasuk orangtua kita sendiri, atau bahkan orang yang mengerti psikologi anak sekalipun. Tapi setidaknya, kita memberikan yang terbaik untuk anak saat kita sudah menjadi orangtua, karena bagaimanapun juga perilaku anak adalah cermin dari perilaku orangtuanya.
Siapkah Anda menjadi orangtua? Bagaimana Anda akan mendidik anak Anda dan bekal apa yang sudah Anda punya? Pilihan ada di tangan Anda.